Kondisi Polsek Bendahara di Aceh Tamiang yang dibakar massa. (ajnn)

ACEH TAMIANG (medanbicara.com) – Mahyar, warga Gampong Tanjung Keramat, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang yang tewas usai ditangkap personel Polsek Bendahara, merupakan keluarga Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Aceh Tamiang, Abdullah alias Dan Bayoe.

Abdullah meminta kepolisian mengusut tuntas kematian sepupunya yang dinilai tak wajar.

“Kami keluarga akan mengawal proses hukum terhadap oknum-oknum polisi di Polsek Bendahara yang telah menghabiskan nyawa adik kami,” kata Abdulah, Selasa (23/10).

Pernyataan tersebut disampaikan Abdullah saat memberi tanggapan dalam rapat mediasi antara keluarga Mahyar bersama unsur Muspida dan Muspika di Kantor Camat Bendahara. Pertemuan digelar untuk mencari solusi terkait kematian Mahyar yang berujung pembakaran kantor Mapolsek Bendahara.

Pada kesempatan tersebut Abdullah menyatakan tidak mengarahkan massa untuk membakar Kantor Polsek. Masa yang berasal dari dua kecamatan itu kata dia, datang sendiri. Di hadapan Waka Polres dan Damdim Aceh Tamiang, Abdullah meminta kasus kematian Mahyar tidak terulang kembali.

Sementara keluarga Mahyar, meminta oknum polisi yang terlibat dalam kematian Mahyar dihukum setimpat dengan perbuatannya. Selain membantah keterlibatan korban dalam bisnis sabu, keluarga juga meyakini jika kematian Mahyar akibat mengalami penganiayaan.

Dalam pertemuan tersebut, keluarga juga meminta barang-barang almarhum yang disita saat penangkapan agar dikembalikan. Barang-barang tersebut diantarannya kalung emas 4 mayam dan tiga unit handphone.

“Almarhum itu kerja sehari-hari jual-beli kepiting. Mana ada jual sabu kami meminta para pelaku harus dipecat dan diproses hukum,” kata Mustafa, keluarga Mahyar yang hadir dalam rapat mediasi. (ajnn)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY