MEDAN (medanbicara. com)-Wali Kota Medan, Drs H T Dzulmi Eldin S MSi didampingi Sekda Kota Medan, Ir H Syaiful Bahri Lubis membuka International Conference on Operational Research (Interi OR) 2017 yang berlansung di Hotel Grand Aston Jalan Balai Kota Medan, Senin (21/8).

Saib Suwito selaku ketua panitia InteriOR 2017 dalam laporannya menjelaskan, tujuan konferensi ini digelar untuk menyediakan sebuah forum bagi para peneliti, dosen, pendidik, pelajar dan praktisi dari semua disiplin ilmu terkait untuk mendiskusikan, berbagi, bertukar serta memperluas pengetahuan mereka tentang kemajuan baru dalam teori dan praktik dalam matematika, terutama dalam penelitian operasi.

Saib menjelaskan, InteriOR 2017 ini akan menyajikan kemajuan terbaru di berbagai bidang penelitian oprasional modern. ”Tema tahun ini lebih baik hidup dengan riset operasi. Saya ingin melaporkan bahwa lebih dari 140 abstrak diterima untuk presentasi pada tahun 2018 yang interien,” jelas Saib.

Kegiatan yang mengusung tema, “Better Living With Operations Research” ini, merupakan salah satu upaya untuk memberikan kontribusi dalam upaya peningkatan kemajuan di bidang riset operasi.

Dihadapan para delegasi, Syaiful menuturkan,Pemko Medan sangat mengapresiasi digelarnya InteriOR 2017 yang diorganisir Fakultas Matematik Universitas Sumatera Utara, Masyarakat Matematika Indonesia (indoMS) Sumatera Utara dan Aceh serta Asosiasi Penelitian Operasi Indonesia (IORA).

Kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk berkontribusi meningkatkan kemajuan di bidang riset operasi, seperti sektor industri, telekomunikasi, publik, transportasi maupun berbagai bidang lainnya. Oleh karenanya diharapkan kegiatan ini dapat memberikan manfaat dalam kemajuan terbaru di berbagai bidang penelitian oprasional modern.

Mantan Kepala Bappeda Kota Medan ini berpesan, saat ini dalam melakukan penelitian tidak bisa hanya mengandalkan satu bidang saja. Untuk itu diperlukan kerjasama lintas disiplin ilmu sehingga akan memiliki dampak yang lebih jauh dahsyat dan memberikan manfaat yang lebih besar lagi.

Menurut Sekda, kini makin banyak penelitian lintas disiplin ilmu yang dilaksanakan. Kerjasama itu dinilainya makin menunjukkan bahwa baik bidang eksakta dan non eksakta masing-masing punya kelebihan dan kekurangan.

“Justru dengan kolaborasilah baru akan didapat hasil yang maksimal untuk membangun Indonesia. Pembangunan yang berbasis hasil penelitian tentunya akan membuahkan hasil lebih baik menuju Indonesia yang lebih siap bersaing di era gelobal,” kata Syaiful

Atas dasar itulah Sekda menilai penting sekali dilakukan banyak penelitian lintas disiplin ilmu. Salah satunya terang Sekda, bidang pendidikan, sebab yang cukup menjadi sorotan saat ini mengenai turunnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau human Developement Index (HDI) Indonesia dari 110 menjadi 113.

Menurut Syaiful , berdasarkan laporan dari United Nations Development Program (UNDP) menunjukkan, IPM indonesia tahun 2015 adalah 110 dari 187 negara. Di tahun 2016, IPM Indonesia justru turun menjadi 113 dari 188 negara. Angka ini bilang Sekda, masih jauh di bawah beberapa negara ASEAN seperti Singapura, Malaysia dan Thailand.

“Data ini menundukkan sumber daya manusia kita masih belum mampu bersaing di tingkat global. Jadi masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pemerintah Indonesia di usianya yakni kini sudah 72 tahun ini,” paparnya.

Itu sebabnya Sekda berharap melalui kegiatan ini, masalah pendidikan dapat dijadikan salah satu riset operasi sehingga kualitas pendidikan di Indonesia akan teruas meningkat ke depannya. “Dengan pendidikan yang makin berkualitas, insya Allah kita akan mampu mewujudkan mimpi menuju kehidupan yang lebih baik lagi,” harapnya.

InteriOR 2017 yang berlangsung selama dua hari ini mendatangkan sejumlah nara sumber diantaranya Prof Dr Gerhard Wilhm Weber dari METU Turki, Prof Dr Abdel Salhi (Universitas of Essex, United Kingdom), Prof Dr Erwin Pesch (Universitas Siegen, Jerman), Prof Dr Yong Hong Wu ( Universitas Curtin, Australia), Prof Dr Katsunori Ano (Institut Teknologi Shibaura, Jepang) dan dr Elise del Rosario (Philipina). (byma)

TIDAK ADA KOMENTAR