Tersangka saat diamankan. (top)
Loading...

MEDAN (medanbicara.com)-Nurjanah Boru Sinaga (32) ditangkap petugas Unit Reskrim Polsek Patumbak, Minggu (27/1/2019) siang. Dari warga Pasar XII, Jalan Perjuangan, Gang Keluarga, Marindal II, Patumbak tersebut disita tiga paket sabu.

Kanit Reskrim Polsek Patumbak, Iptu Budiman Simanjuntak menyebutkan, dalam menjalankan bisnis haramnya, tersangka tidak sendiri. Dia dikendalikan narapidana (napi) dan dibantu seorang kurir.

“Ada pacar tersangka yang sekarang masih berstatus napi di Lapas Tanjung Gusta yang mengendalikannya. Sekarang, napi dan kurir itu masih dalam pengembangan kita,” sebut Budiman kepada wartawan, Senin (28/1/2019).

Menurut dia, tersangka memperoleh barang haram tersebut untuk diedarkan setelah menerima dari seorang kurir yang diperintah oleh napi yang merupakan teman tapi mesra (TTM) janda tersebut.

“Jadi, tersangka dikendalikan oleh napi tersebut melalui telepon seluler. Tersangka selalu bertemu dengan kurir yang mengantar barang kepadanya,” terang mantan Kanit Reskrim Polsek Medan Kota tersebut.

Profesi tersangka sebagai pengedar sabu membuat warga sekitar tempat tinggalnya resah, hingga melaporkannya ke pihak berwajib. Petugas kepolisian segera melakukan penyelidikan dan tersangka berhasil ditangkap tak jauh dari kediamannya.

Polisi menyita barang bukti tiga paket sabu yang disembunyikan di warung, satu dompet pink dan sekop sedotan plastik. Tersangka dijerat UU No 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman di atas lima tahun.

Saat diwawancarai, Nana panggilan akrab Nujana hanya tertunduk lesu dan hanya menangis. Tak sepatahkan pun ucapan yang keluar dari mulut perempuan bertubuh kecil mungil, berwajah cantik itu. Wajahnya terlihat seperti orang ketakutan.

Namun beberapa saat kemudian, sambil mengusap air matanya, Nana menuturkan semenjak kedua orang tuanya meninggal dunia dan berpisah dengan suaminya, Nana mengaku kalau dirinya sebagai tulang punggung keluarga.

“Pekerjaan jual sabu ini terpaksa saya lakukan, hanya untuk menyambung hidup buat tiga orang anak-anak saya yang masih kecil-kecil,” bilang Nana sambil menangis.

Ditanya apakah tau kalau dirinya sudah menjadi target polisi, Nana menjawab tidak tau.

“Saya nggak tahu kalau saya sudah menjadi target polisi,” jawab Nana sembari mengatakan kalau dia tidak pernah membayangkan dirinya masuk penjara dan masa depan anak bakal terlantar. Nana kembali lagi menangis, dan selanjutnya terdiam seakan pasrah.

Sementara saat ditanya seorang pria bernama Agam yang juga dikenal sebagai bandar narkoba, Nana mengaku kalau Agam adalah pacarnya yang saat ini lagi menjalani hukuman kasus narkoba di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Lubuk Pakam.

“Jadi apakah narkoba yang kamu jual itu dipasok Agama dari LP,” tanya wartawan. Nana menggelengkan kepala, sembari menjawab kalau sabu yang dijualnya itu dibelinya dari seorang pria di Kampung Keling.

“Sabu-sabu itu saya beli dari Kampung Keling, karena di situ murah, kemudian dijual kembali dalam bentuk eceran, dan untung lumayan,” bilangnya. (top/bbs)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY