Wakil Ketua I TP PKK Kota Medan Hj. Nurul Khairani Akhyar, SE memberikan sambutan dan ucapan selamat datang kepada jama'ah pengajian Ramadhan di Pendopo Rumah Dinas Wali Kota, Jumat (10/5). (ist)
Loading...

MEDAN (medanbicara.com)-Memasuki hari kelima Ramadan 1440 Hijriyah, Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Medan menyelenggarakan Pengajian Ramadan, di Pendopo Rumah Dinas Walikota Medan Jalan Sudirman No 35, Medan, Jumat (10/5/2019).

Pengajian ini diikuti sedikitnya 250 orang yang terdiri dari Anggota TP PKK Kota Medan, para Ketua TP PKK Kecamatan, Ketua TP PKK Kelurahan Se-Kota Medan, Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kota Medan, Pengajian Al-Hidayah Kota Medan serta Pengajian Aisyiah Kota Medan.

Sejak pagi satu per satu jamaah pengajian mulai berdatangan memenuhi Pendopo Rumah Dinas Walikota Medan dengan mengenakan pakaian serba putih. Meskipun cuaca pada hari kelima puasa ini cukup terik namun tidak menyurutkan langkah para Ibu-ibu pengajian mengikuti pengajian Ramadan.

Ketua TP PKK Kota Medan, Hj Rita Maharani Dzulmi Eldin, SH yang pada kesempatan itu diwakili Hj Nurul Khairani Akhyar, SE selaku Wakil Ketua I TP PKK Kota Medan mengucapkan selamat datang dan berterima kasih kepada seluruh jamaah pengajian yang berhadir.
Nurul menyampaikan, pengajian Ramadan ini merupakan bagian dari kecintaan terhadap Alquran serta upaya mengisi bulan Suci Ramadan dengan kegiatan yang dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

“Pengajian Ramadan yang diselenggarakan TP PKK Kota Medan ini merupakan upaya kita semua untuk selalu mencintai Alquran serta mengisi bulan suci Ramadan dengan kegiatan yang dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Untuk itu, saya mengucapkan terima kasih kepada jamaah pengajian yang hadir dan bersama-sama melantunkan ayat-ayat suci Alquran,” ujarnya.

Selain merupakan wujud kecintaan kepada Alquran, Nurul juga berharap pengajian Ramadan ini menjadi alat pemersatu dan penguat tali silaturrahmi antara TP PKK Kota Medan dengan unsur ibu-ibu pengajian dari BKMT, Al-Hidayah dan Aisyiah. Nurul sangat menyadari bahwa kaum ibu merupakan bagian tidak terlepas dari pembangunan, khususnya pembangunan karakter generasi muda bangsa.

“Melalui pengajian Ramadan ini mari kita pupuk rasa persaudaraan yang kuat serta pererat tali silaturahmi antara kita semua kaum ibu yang menjadi tonggak pembangunan karakter anak bangsa. Untuk itulah, selaku tonggak, kita semua harus lebih kokoh, dengan mengikuti berbagai kegiatan pengajian kita juga membekali diri untuk menjadi madrasah bagi anak-anak kita semua,” kata Nurul.

Kemudian, Nurul juga mengatakan, Bulan Ramadan merupakan ladang amalan bagi kaum muslimin. Untuk itu diakhir sambutannya, Nurul mengajak seluruh jama’ah pengajian untuk terus meningkatkan ritme ibadah selama bulan Ramadhan yang nantinya juga diharapkan dapat diteruskan pada bulan-bulan selanjutnya.

“Bulan Ramadan ini diharapkan merupakan awal perubahan besar dalam hidup kita semua. Semoga dengan meningkatkan ritme ibadah pada bulan ini tentunya akan menjadi terbiasa dalam menjalankan ibadah pada bulan-bulan selanjutnya. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW, barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin adalah orang yang beruntung,” pungkasnya.

Selanjutnya, dengan penuh semangat ketaqwaan kaum Ibu jama’ah pengajian mendengarkan tausiah yang disampaikan Al Ustad Susanto yang pada kesempatan ini membahas tentang jenis-jenis orang yang berpuasa menurut Imam Al Gazali yakni, puasa awam, puasa khusus, puasa khusus diatas khusus.

Dalam ceramahnya, Ustad Susanto menyampaikan menurut yang pertama, ada orang puasa hanya sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi perbuatan maksiat tetap dilakukannya, inilah puasa orang awam. Pada umumnya, mereka mendefenisikan puasa sebatas menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa secara dzahir.

Hal ini, sambung Ustad Susanto, berbeda dengan tingkatan kedua, yaitu puasanya orang-orang saleh. Mereka lebih maju dibandingkan orang awam, sebab mereka paham bahwa puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari melakukan dosa. Percuma berpuasa, bila masih terus melakukan maksiat. Karenanya, kelompok ini menilai maksiat menjadi pembatal puasa.

Lebih lanjut Ustad Susanto menjelaskan bahwa yang ketiga adalah puasa paling khusus. Puasa model ini hanya dikerjakan oleh orang-orang tertentu. Hanya sedikit orang yang sampai pada tahap ini. Pasalnya, selain menahan lapar dan haus dan menahan diri untuk tidak bermaksiat, mereka juga memfokuskan pikirannya untuk selalu mengingat Allah SWT. Bahkan, pikiran selain Allah SWT dan pikiran terhadap dunia dianggap merusak dan membatalkan puasa.

“Dari tingkatan ini, kita mengetahui bahwa ibadah puasa merupakan kesempatan terbesar untuk melatih diri kita supaya lebih baik dari sebelumnya. Semoga puasa kita tidak bersifat formalitas, tetapi juga bermanfaat dan berdampak positif,” jelasnya.

Pengajian ini turut dihadiri Kadis P3APM Kota Medan Khairunnisa ST MM serta Kabag Agama Setda Kota Medan Adlan SPd MM. Sebelum meninggalkan pendopo rumah dinas, para jama’ah pengajian Ramadhan diberikan buah tangan berupa makanan ringan untuk berbuka puasa dari TP PKK Kota Medan.(rel/kom)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY