Trend Kanker Serviks Mulai Menyasar Usia Muda

0
123
Ilustrasi kanker serviks /net

MEDAN (medanbicara.com)-Dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi (Obgyn) dr Khairani Sukatendel SpOG menyatakan, bahwasanya penyakit kanker serviks, saat ini sudah tidak lagi hanya menyerang pada wanita yang berusia lanjut saja. Melainkan, penyakit yang disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV) tersebut trendnya kini juga telah menyerang wanita usia yang jauh lebih muda.

“Malah sudah ada kasusnya yang menyerang usia 20an. Tahun lalu di RS Adam Malik ada dua wanita muda menderita kanker serviks, padahal masih berumur 21 tahun,” ungkapnya, belum lama ini.

Bahkan jelas Khairani, penyakit kanker serviks yang di derita kedua wanita muda tersebut pada saat berobat sudah menginjak stadium 2. Hal ini, ujarnya, tentu sudah terlambat untuk di tangani.

“Kalau sudah stadium 2 sudah tidak bisa diobati lagi. Penanganan yang bisa dilakukan hanya dilakukan kemoterapi,” jelasnya.

Karenanya, lanjut Khairani, sudah saatnya kampanye deteksi dini kanker serviks tidak lagi dilakukan dengan memandang usia. Deteksi dini menurutnya sudah harus dilakukan, baik kepada wanita yang sudah menikah, maupun yang belum menikah (gadis).

“Harusnya deteksi dini itu, tidak lagi memandang usia. Yang penting bila dia sudah melakukan aktivitas seksual wajib deteksi dini,” terangnya.

Diserangnya wanita muda oleh kanker serviks, sebut Khairani, trendnya telah berlangsung dalam kurun waktu 5 tahun belakangan. Hal ini disebabkan, oleh faktor resikonya berupa aktivitas seksual yang dilakukan pada usia dini dengan mitra seksual yang banyak, dan juga kebiasaan merokok.

“Tapi penyebab utamanya kanker serviks ini ialah penularan virus HPV,” ujarnya.

Hal ini, sambung Khairani, merupakan fenomena prilaku dari para remaja yang sudah kebablasan dalam menjalani gaya hidup tanpa mengindahkan norma-norma maupun agama. Ditambah lagi dengan tidak mendidiknya tayangan sinetron, serta dekatnya akses pornografi melalui internet, membuat remaja rentan melakukan gaya hidup seks bebas.

“Jadi perilaku itu kini sulit terhindarkan, dan bentengnya harus dilakukan dari rumah bukan hanya berharap dari dunia pendidikan serta pemerintah saja. Karena dampaknya akan jauh kedepan. Sebab bukan hanya soal kehamilan yang tak di inginkan saja, tapi juga kesehatan reproduksinya kedepan. Kan sayang 10 tahun kedepan fungsi generasi muda harus berakhir dengan kanker,” tandasnya. (fatimah)

 

TIDAK ADA KOMENTAR