Adam dan Malik saat digendong Ayahnya di RSUP H Adam Malik Kota Medan, Jumat (28/6/2019). (trb)
Loading...

MEDAN (medanbicara.com)- Sedih dan takut, hal tersebut yang pertama kali dirasakan oleh Nurida Sihombing, saat mengetahui bayi yang dilahirkannya dalam kondisi kembar siam.

“Kemarin tanggal 22 November 2018 lalu saya melahirkan di Rumah Sakit Sibolga, di situ saya belum tahu kondisi anak saya karena memang masih lemas setelah melahirkan,” ujar Nurida, Minggu (30/6/2019).

Warga Desa Manalu Purba, Kecamatan Parmonangan, Kabupaten Tapanuli Utara, saat ditemui wartawan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Adam Malik Medan menuturkan, beberapa hari kemudian baru mengetahui kondisi bayi kembarnya tersebut.

“Ini bukan anak pertama saya, karena sebelumnya saya sudah memiliki anak laki-laki berusia 5 tahun dan anak perempuan 2,5 tahun. Tapi saya benar-benar kaget dan sedih karena anak kembar saya malah memiliki kelainan,” tuturnya.

Wanita berusia 25 tahun inipun tidak memiliki tanda-tanda atau keanehan selama sembilan bulan mengandung bayi kembar siam yang diberinama Adam dan Malik tersebut.

“Nggak ada tanda-tanda aneh, semuanya baik-baik saja. Tapi memang kemarin saat mau melahirkan rasa sakitnya benar-bentar berbeda dari dua anak saya sebelumnya dan proses melahirkannya juga normal,” jelasnya didampingi sang suami, Juliadi Silitonga.

Ia menerangkan, setelah melihat ada keanehan dari bayi kembarnya tersebut, kemudian Rumah Sakit Sibolga menyarankan untuk membawa bayi kembar tersebut ke Medan untuk mendapatkan proses perawatan yang lebih intensif.

“Setelah itu kami bawa ke Medan, ke Rumah Sakit H Adam Malik sejak tanggal 27 November 2018 dan hingga saat ini dirawat dan menunggu proses operasi pemisahan,” terangnya.

Karena berasal dari keluarga yang kurang mampu, ia mengaku cukup kesulitan untuk membiayai terutama kebutuhan sehari-hari seperti keperluan popok bayi, susu, minyak telon dan lainnya.

“Soalnya suami saya di kampung hanya bekerja sebagai penderes getah yang penghasilannya tidak tentu. Kalau cuaca bagus, penghasilannya Rp300ribu per minggu dan itu benar-benar tidak cukup,” ungkapnya.

Ia menuturkan, belum lagi untuk keperluan dan kebutuhannya dan sang suami selama berada di Kota Medan dan tak jarang harus bolak-balik dari kampungnya di Tapanuli Utara ke Medan.

“Harus bolak-balik dan selama si kembar dirawat dan saat ini memang ayah si kembar sudah mendapatkan pekerjaan di Medan, tapi gajinya masih kecil dan kami masih sangat membutuhkan bantuan untuk kebutuhan terutama kebutuhan si kembar,” tuturnya.

Sementara itu, Kasubbag Humas RSUP H Adam Malik, Rosario Dorothy Simanjuntak, mengatakan, Adam dan Malik merupakan bayi kembar siam ketiga yang akan menjalani operasi pemisahan di RSUP H Adam Malik Medan.

“RSUP H Adam Malik sudah banyak menangani pasien bayi kembar dan bayi kembar siam yang berhasil dipisahkan ada dua yaitu asal Aceh yang saat ini keduanya sudah SMP yang bernama Mariana dan Mariani,” tuturnya.

Ia mengungkapkan, kemudian yang kedua berjenis kelami wanita yang bernama Zahira dan Fahira yang berhasil dilakukan dioperasi pemisahan dua tahun lalu yang berasal dari Asahan.

“Kasus pasien sebelum-sebelumnya malah lebih kompleks, Zahira dan Fahira punya kelainan jantung dan beberapa kelainan lain. Sementara Adam dan Malik hingga saat ini masih sangat baik-baik saja dan masih normal,” ungkapnya.

Ia menerangkan, RSUP H Adam Malik telah membentuk tim khusus untuk menangani Adam dan Malik. Dan memang setiap kali ada pasien bayi kembar, maka RSUP H Adam Malik membentuk tim khusus karena melibatkan banyak bagian mulai dari spesialis anak, bedah, jantung dan lainnya.

“Tim tersebut juga sudah beberapa kali melakukan rapat karena memang memerlukan persiapan dan sampai sejauh ini masih belum menentukan tanggal karena masih mau melakukan persiapan di sarana dan prasarana dahulu. Jika sudah komplit baru akan ditentukan tanggalnya,” terangnya. (trb)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY