Tersangka Aris dan Ajis. (trb)
Loading...

SURABAYA (medanbicara.com)- Dugaan motif asmara sesama jenis antara guru honorer Budi Hartanto (28) dan pelaku pembunuhan Aris Sugiarto (34) diungkap dalam rilis pengungkapan mayat dalam koper di Mapolda Jatim, Senin (15/4/2019).

Ternyata korban Budi Hartanto dan pelaku Aris Sugiarto adalah pasangan kekasih. Bahkan sebelum dihabisi keduanya melakukan hubungan intim di warung milik Aris, Jalan Surya, Sambi, Ringinrejo, Kediri, Selasa (2/4/2019) silam.

Fakta terbaru adanya hubungan intim antara guru honorer Budi Hartanto dan tersangka itu diungkap Dirreskrimum Polda Jatim, Kombes Pol Gupuh Setiono dalam rilis kasus ini, Senin (15/4/2019).

Bahkan menurut Gupuh Setiono, hubungan intim antara korban guru honorer Budi Hartanto dengan tersanga Aris Sugiarto itu bukan kali pertama dilakukan.

Dalam penjelasannya, Kombes pol Gupuh Setiono menjelaskan, motif pembunuhan tersebut saling berhubungan. Di satu sisi ada motif asmara, namun di sisi yang lain juga terjadi motif perselisihan di antara kedua pelaku dan korban.

“Hubungan asmara sesama jenis, terus berakhir perselisihan karena tidak diberikan uang dan berakhir dengan pertengkaran yang mengakibatkan korban dibunuh,” katanya pada awak media di depan Halaman Reskrimum Polda Jatim.

Gupuh mengatakan, pelaku yang memiliki hubungan asmara sejenis adalah Aris Sugianto. Aris Sugiarto terhitung sudah tiga kali melakukan hubungan intim bersama korban. Keduanya melakukan hubungan tersebut di kediaman Aris.

“Setiap kali berhubungan, Aris ngasih uang ke korban. Aris sayang pada korban, dan akan memberikan apa yang diminta korban,” jelas Gupuh.

Namun untuk hubungan intim yang keempat kalinya, Aris dan korban sengaja melakukan di ruangan di sebuah warungnya di Jalan Surya, Sambi, Ringinrejo, Kediri, Selasa (2/4/2019) silam.

Gupuh melanjutkan, usai melakukan hubungan badan, percekcokan itu akhirnya dimulai. Percekcokan itu ditengarai karena Aris tidak mampu membayar uang yang diminta oleh korban.

“Usai lakukan hubungan intim di dalam kamar, karena Aris nggak bisa ngasih uang ke korban, korban marah-marah,” jelasnya.

Lantaran saat itu waktu telah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Ajis yang berada di luar kamar, tak tahan dengan suara percekcokan yang terdengar cukup kencang itu, berinisiatif menegur korban.

“Diingatkankan Ajis tapi korban tak terima, korban malah bilang ini bukan urusan kamu,” tuturnya.

Tak cuma membantah teguran Ajis, ungkap Gupuh, tanpa diduga korban justru melayangkan sebuah tamparan ke arah pipinya. “Tak terima, Ajis juga membalas,” ungkapnya.

Mungkin rasa sakit hati korban begitu meluap-luap, sebilah golok sepanjang sekitar 10 sentimeter yang tergeletak di sebuah tempat duduk atau bale di depan warung, langsung diambil korban untuk disabetkan ke arah Ajis.

“Korban itu malah mengambil golok lalu diayunkan ke arah Ajis. Tapi Ajis bisa menangkis,” lanjutnya.

Usai menangkis, Ajis yang berupaya merebut golok dari tangan korban, ternyata berhasil. Tanpa pikir panjang, mengingat senjata golok telah berpindah tangan. Kali ini justru Ajis yang berbalik menyabetkan golok tersebut ke arah korban.

Sabetan pertama meski tak langsung menumbangkan korban, namun sabetan Ajis mampu mengenai lengan kiri korban.

“Kemudian korban jatuh tertelungkup, lalu teriak-teriak, saat itulah Aziz berkali-kali menyabet golok,” katanya.

Lalu apa peran Aris dalam pembunuhan tersebut? Gupuh menerangkan, bersamaan dengan aksi Ajis yang telanjur kalap bertubi-tubi mengibaskan sabetan, Aris mendadak muncul membantunya menyumpal mulut korban hingga meregang nyawa.

“Jadi mulut korban disumpal, makanya hasil otopsi menunjukkan korban mati karena kehabisan nafas,” jelasnya.

Setelah korban dipastikan tumbang dan meregang nyawa, lanjut Gupuh, kedua pelaku berupaya menghilangkan jejak dengan cara membuang mayat tersebut ke suatu tempat.

Namun sebelum itu keduanya masih harus menemukan cara memindahkan mayat korban. Maka, ungkap Gupuh, muncullah ide dari Aris mewadahi mayat korban ke dalam sebuah koper milik ibunya.

“Aris waktu itu ya langsung pulang, ambil koper milik ibunya. Belakangan Aris cerita kalau koper itu dijual,” tuturnya.

Lalu saat proses pengemasan mayat ke dalam koper, muncul masalah baru. Gugup menambahkan, ternyata koper tersebut tidak muat.

“Pas dimasukin gak cukup, dikeluarkan lagi, lalu Aris usul kepala korban dipotong,” katanya.

Usulan Aris terbilang brilian, usai kepala korban dipotong, akhirnya mayat tersebut muat di simpan ke dalam koper tersebut.

Gupuh menyebut, mayat korban ditekuk secara paksa di dalam koper. Lalu dibuang di bawah jembatan Karang Gondang, Udanawu, Blitar. Sedangkan kepala korban di wadahi kantung kresek untuk dibuang di bantaran sungai Ploso Kerep, Bleber, Kras, Kediri.

“Kejadian itu dilakukan selasa malam,” tandasnya.

Dalam rilis perkara tersebut, Aris Sugianto menangis sesenggukan di hadapan wartawan yang meliput.

“Saya menyesal, saya minta maaf kepada keluarga korban, saya khilaf,” kata Aris didampingi Ajis Prakoso, pria yang juga ikut membunuh Budi Hartanto, seorang guru tari honorer Pemkab Kediri.

Aris juga berjanji akan mendoakan korban diampuni dosa-dosanya.

“Saya di sini hanya bisa berdoa agar almarhum diampuni dosa-dosanya dan ditempatkan bersama orang-orang yang beriman,” ucapnya sambil sesenggukan.

Dalam rilis kasus tersebut, kedua pelaku yakni Ajis dan Aris ditunjukkan kepada wartawan. Keduanya mengenakan baju tahanan dan dalam kondisi diborgol.

Pelaku Ajis dan Aris berhasil diamankan setelah 10 hari diburu polisi. Ajis diamankan di Kediri, sementara Aris diamankan di Jakarta Kamis malam pekan lalu.

Ajis diketahui adalah pria berusia 23 tahun, warga Jalan Merak, Desa Ringinrejo, Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri. Sementara Aris yang berusia 34 tahun itu tercatat sebagai warga Desa Mangunan, kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar.

Jasad Budi Hartanto ditemukan dalam koper yang ditemukan pencari rumput di pinggir sungai bawah Jembatan Desa Karanggondang, Kecamatan Udanawu, Blitar, Jawa Timur, Rabu (3/4/2019).

Jasad ditemukan tanpa kepala dan dalam kondisi tanpa busana di dalam sebuah koper. (trb)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY