Suasana di rumah duka Jalan Rakutta Sembiring Kecamatan Siantar Martoba, Senin (1/10/2018). (mts)

PEMATANGSIANTAR (medanbicara.com)–Warga Kelurahan Naga Pita mendadak heboh, Senin (1/10). Pasalnya, jasad R Marpaung, warga Jalan Rakutta Sembiring, Kelurahan Naga Pita, Kecamatan Siantar Martoba, menjadi perebutan anak-anak dari tiga orang istrinya. Alamak..!

Untuk mengatasi agar tidak terjadi kerusuhan antar anak-anak, pihak kepolisian pun turun ke lokasi. R Marpaung meninggal Minggu (30/9) siang setelah sakit.

Informasi dihimpun, R Marpaung pertama kali menikah dengan Boru Siahaan dan dikaruniakan enam orang anak. Saat ini Boru Siahaan bersama anaknya disebutkan tinggal di Jalan Kertas, Kecamatan Siantar Timur, Pematangsiantar.
Kemudian, Marpaung menikah lagi dengan Boru Silalahi dan dikaruniai enam orang anak yang juga tinggal di Kota Pematangsiantar.

Setelah itu, Marpaung kembali menikah dengan P Boru Butarbutar, dan dikaruniai dua orang anak. Di sisa hidupnya, R Marpaung tinggal bersama istrinya P Boru Butarbutar. Bahkan saat sakit hampir tiga tahun belakangan ini, Boru Butarbutar lah yang merawatnya.

Sejak menikah dengan Boru Butarbutar, R Marpaung yang merupakan pensiun anggota Polri tinggal di Jalan Rakutta Sembiring. Selama berumah tangga dengan Boru Butarbutar, R Marpaung dikenal masyarakat sebagai sosok yang sangat ramah dan dekat dengan warga.

Seorang perempuan yang dikenal sebagai putri sulung R Marpaung dari Boru Silalahi, bertahan agar jasad ayah mereka disemayamkan di rumah Boru Butarbutar. Disebutkannya, di masa hidup Ayahnya pernah memesankan kepada anak-anaknya kalau meninggal atau sakit harus di rumah Boru Butarbutar.

“Kita harus menghargai orang. Inanguda ini sudah menghabiskan hidupnya untuk mengurus bapak. Kenapa pada saat sudah meninggal bapak mau dibawa ke rumah Mak Tua (Istri pertama),” kata Boru Marpaung, kepada seorang pria yang dipanggil Abang, yang belakangan diketahui merupakan salah satu anak dari Boru Siahaan, istri pertama almarhum.

Wanita yang selama ini diketahui tinggal di Pulau Bali, mengaku ibunya dan Inang Uda (Boru Butarbutar) serta anak-anaknya, berharap jasad Ayah mereka disemayamkan dan melakukan upacara adat di rumah ayahnya bersama Boru Butarbutar.

Sementara anak dari Boru Siahaan, meminta agar jasad bapaknya disemayamkan di rumah duka di Jalan Kertas. Namun usulan itu ditolak anak istri kedua dan bertahan ayahnya tetap disemayamkan di rumah istri ketiga. Alasannya, selama ini pihak istri pertama tidak mengakui keberadaan istri kedua dan ketiga, termasuk anak-anaknya.

“Bapak-bapak semuanya, malu saya sebenarnya menceritakan ini. Abang dan kakakku ada enam anaknya. Tapi, satu saja yang peduli. Lima orang lagi tidak menganggap kami. Bagaimana kami mau ke rumahnya. Waktu Oppung kami meninggal Mak Tua tidak menganggap kami ada. Tes DNA pun, kami anaknya,” terang Boru Marpaung, dihadapan abangnya dan warga yang sudah ramai di rumah duka.

Sementara adik kandung R Marpaung yang hadir di lokasi, setuju agar jasad abangnya disemayamkan di rumah duka Jalan Rakutta Sembiring.

“Sampaikan kepada mamakmu kalau jasad abang ini di sini diadati. Tapi, kalau tidak ada kesepakatan antara kedua belah pihak, jasad abang saya ini disemayamkan di Medan saja atau di Toba,” kata pria yang mengaku sebagai adik mendiang R Marpaung ini. (mts)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY