Keempat jenazah sebelum dikebumikan. (mst/pjs)

SAMOSIR (medanbicara.com)- Jerit histeris mewarnai proses pemakaman James Samosir beserta istrinya Rosalina Br Gultom serta dua anaknya, Rauli Agnes Br Samosir dan Fransiskus Esodorus Samosir, Jumat (26/10/2018).

Keempatnya adalah korban yang ditemukan tewas bersimbah darah di dalam rumah di Dusun Janji Mauli Desa Tambun, Kecamatan Onan Runggu Kabupaten Samosir. Hingga kini, James disebut diduga menghabisi nyawa istri dan dua anaknya lalu memilih bunuh diri dengan memotong nadinya.

Dari hasil otopsi, Rosalin dan kedua anaknya tewas karena hantaman benda tumpul di tengkorak kepala. Sementara James nadi di pergelangan tangan terpotong, dan juga sempat minum racun hama.

Oslina Samosir (37), kakak kandung James Samosir yang tinggal di Kandis, Riau bercerita banyak kepada wartawan tentang keluarga adik kandungnya yang merupakan anak ke lima dari 10 bersaudara.

James di mata keluarganya diakui sebagai orang yang bertemperamen tinggi tapi pendiam, sedangkan isterinya Rosalina Gultom (31) merupakan tuna rungu (tidak bisa bicara) yang berparas cantik dan baik hati. Berdasarkan keterangan Oslina, adiknya James kerap emosi dengan tiba-tiba tanpa ada sebab yang pasti.

Sikap James yang pemarah, diduga semakin parah setelah bapak kandung mereka meninggal dunia pada bulan April 2017 lalu. Kepergian sang bapak diduga menyebabkan James depresi berat.

“Beberapa kali dia sempat mengamuk kepada eda itu, padahal selama ini, adekku sangat sayang sama istri dan kedua anaknya,” ujar Oslina.

Sebagai kakak, Oslina mengaku sering kerap pulang kampung untuk melihat kondisi adiknya ini. Sejak bapaknya meninggal, terhitung sudah empat kali dia pulang. Terakhir pada bulan September tahun lalu untuk memberi manuk na pinadar (ayam yang dipanggang) kepada adiknya James, dengan harapan agar keadaan adiknya membaik.

Oslina sangat terpukul dengan peristiwa tragis ini. Dia bahkan tidak menyangka kalau kejadian ini menimpa keluarga adiknya. Sebelumnya, Oslina yang tinggal di Kandis mengaku mendapatkan kabar dari salah satu kerabatnya di Kalimantan pada Hari Rabu (24/10) sekira pukul 15.00 WIB. Oslinapun langsung menangis histeris dan gemetaran.

Tak sanggup rasanya membayangkan seluruh anggota keluarga adiknya meregang nyawa.

“Saya pas makan siang waktu dapat kabar pilu ini, spontan saya menjerit dan piring di tangan saya terlempar sampai pecah. Saya nyaris pingsan karena tak menyangka kejadian pahit ini menimpa keluarga adik saya ini,” terang Oslina sembari sesekali menyeka air matanya.

Jenazah tiba di rumah duka pada hari Kamis (25/10) sekira pukul 23.00 WIB. Kedatangan keempat jenazah disambut isak tangis histeris dari kedua belah pihak yakni keluarga besar Samosir dan keluarga besar Gultom beserta warga sekitar yang sedari sore telah menunggu kedatangan jenazah.

Sementara itu, Alexander Samosir, salah seorang kerabat menjelaskan penyelesaian kasus ini, kedua keluarga sepakat untuk menyerahkan segalanya kepada pihak kepolisian. Dia berharap agar kasus ini dapat diungkap sejelas-jelasnya.

Usai pemberian ulos dari hula hula marga Gultom yang diletakkan di atas jasad Rosmelina boru Gultom, acara dilanjutkan dengan ibadah penutupan oleh gereja Katolik Sukkean. Selesai ibadah penutup, sekira pukul 15.00 WIB, keempat jenazah dikebumikan. (mst/pjs)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY