Loading...

GUNUNGSITOLI (medanbicara.com)-Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Gunungsitoli dari tahun ke tahun tertinggi dikisaran 6 persen lebih.

Pada tahun 2017 ekonomi Kota Gunungsitoli tumbuh sebesar 6,01 persen. Sedangkan di tahun 2016 menembus ke level 6, 03 persen. Tahun 2015 pertumbuhan PDRB berada dikisaran 6,0 persen. Dan tahun 2014 sebesar 6,07 persen.

“Memang jika dibandingkan dengan pertumbuhan PDB nasional sebesar 5,4 persen, PDRB Kota Gunungsitoli masih tinggi. Malahan Kota Gunungsitoli nomor 2 tertinggi se-Sumatera Utara setelah Kabupaten Mandailing Natal. Dan yang tertinggi dibanding dengan 4 kabupaten lainnya se-Kepulauan Nias,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Gunungsitoli, Azantaro, Kamis (14/2/2019).

Menurut Azantaro, dari 17 item kategori lapangan usaha, kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Gunungsitoli hingga tahun 2017 pertama, di sektor perdagangan besar dan eceran, reperasi mobil dan sepeda motor sebesar 25,34 persen.

Kedua, konstruksi dan infrastruktur sebesar 22,11 persen. Di urutan ketiga yakni sektor pertanian, peternakan, perikanan dan kehutanan sebesar 14,72 persen dan keempat bidang transportasi dan pergudangan 8,69 persen.

Ia menjelaskan, PDRB Kota Gunungsitoli atas dasar harga berlaku menurut kategori lapangan usaha, pada tahun 2017 diperkirakan totalnya sebesar Rp4,50 triliun sedangkan di tahun 2016 sebesar Rp4,03 triliun dan Rp3,59 triliun di tahun 2015.

Sedangkan PDRB perkapita Kota Gunungsitoli atas dasar harga berlaku pada tahun 3013 sebesar Rp21,69 juta dan meningkat sampai dengan Rp32,34 juta di tahun 2017.

Ia mengatakan , PDRB perkapita merupakan gambaran rata-rata pendapatan yang diterima oleh setiap penduduk sebagai hasil dari proses produksi. PRDB per kapita diperoleh dengan membagi total nilai PDRB dengan jumlah penduduk. Dimana jumlah penduduk Kota Gunungsitoli sampai tahun 2017 sebanyak 139.281 jiwa.

“Sumbangan terbesar terhadap tingkat PDRB Kota Gunungsitoli berasal dari sektor perdagangan besar dan eceran, perbengkelan kendaraan bermotor tumbuh sebesar 25,34 persen atau sebesar Rp1,14 triliun.

Disusul konstruksi dan infrastruktur tumbuh sebesar 22,11 persen atau setara dengan Rp996,0 miliar. Sedangkan di urutan ketiga yakni sektor pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 14,72 persen atau Rp.663 miliar. Dan keempat, transportasi dan pergudangan sebesar 8,69 persen atau Rp391 miliar.

Sedangkan sisanya seperti sektor administasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial tumbuh sebesar 5,36 persen, real estat sebesar 5,33 persen dan jasa pendidikan 5,02 persen.

“Intinya bahwa nilai PDRB sebesar 6 persen Kota Gunungsitoli menunjukan ekonomi tumbuh sehat,” kata Azantaro.

Dipaparkan Azantaro, membaiknya pertumbuhan ekonomi Kota Gunungsitoli dapat dilihat dari beberapa indikator, seperti menurunnya angka kemiskinan. Pada tahun 2016 sebesar 23,43 persen namun di tahun 2018 angka kemiskinan menurun sebesar 18,44 persen.

Selain itu, pertumbuhan sektor perdagangan besar dan eceran, perbengkelan kendaraan bermotor, konstruksi, dan transportasi serta pergudangan berkontribusi dalam menyerap banyak tenaga kerja hingga mencapai 40,60 persen pada tahun 2018.

Akibatnya tingkat pengangguran terbuka menurun. Dari tahun 2015 silam sebesar 10 persen. Namun di tahun 2018 berkurang menjadi 5,92 persen. Hal ini sebagai akibat dari membaiknya pertumbuhan ekonomi di berbagai sektor.

Meskipun petani berkurang di sektor pertanian, sambungnya, akibat harga jual menurun berupa komoditi karet namun umumnya mereka bergeser di sektor konstruksi dan infrastruktur sebagai tenaga kerja.

Turunnya angka kemiskinan sebesar 18,44 persen menunjukan indeks pembangunan manusia Kota Gunungsitoli naik sebesar 67,68 persen pada tahun 2017. Sehingga rasio kesenjangan mulai mengecil dari 0,334 persen berkurang menjadi 0,324 persen.

Artinya bahwa jika dibandingkan dengan 4 kabupaten lainnya se-Kepulauan Nias, Gunungsitoli termasuk yang masih tinggi IPM. Hal ini didukung oleh keberadaan lembaga-lembaga pendidikan yang banyak di Kota, fasilitas kesehatan dan infrastruktur jalan transportasi yang memadai di Gunungsitoli membuat tingkat IPM untuk bisa baca dan menulis tinggi. (sut)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY