Jalan masuk menuju Kampung Brohol, Desa Pematang Cermai, Kecamatan Tanjung Beringin, Serdang Bedagai sudah 40 tahun tak pernah tersentuh pembangunan. (indra)

SERGAI (medanbicara.com)-Jalan masuk menuju Kampung Brohol, Desa Pematang Cermai, Kecamatan Tanjung Beringin, Serdang Bedagai sudah 40 tahun tak pernah tersentuh pembangunan. Akibatnya, sebanyak sekitar 30 kepala keluarga (KK) terisolir.

Amatan wartawan koran ini sepekan lalu, kondisi jalan masuk yang di sampingnya dibangun tali air itu cukup memprihatinkan. Jalan sepanjang lebih kurang 200 meter menuju desa yang penghasilan warganya dari bertani itu berlumpur layaknya kubangan kerbau. Untuk masuk ke desa itu harus berjalan kaki.

Ironisnya, jalan desa yang berdekatan dengan Kota Bedagai itu tak pernah tersentuh pembangunan. Warga di sana juga sudah berkali-kali melaporkan hal tersebut kepada kepala desa setempat. Namun hingga 40 tahun tak juga tersentuh pembangunan.

Setiap harinya warga di sana harus berjalan kaki keluar kampung untuk mencapai jalan aspal. Kalaupun naik sepada motor harus berhati-hati jika tak ingin masuk ke lumpur dan sawah warga.

“Beginilah kondisi jalannya. Kalau hujan deras nyaris tak bisa dilewati. Terkadang berjalan saja bisa terpeleset,” kata Nurhayati, warga yang sudah puluhan tahun tinggal di sana.

Menurut ibu itu, kondisi itu sudah berlangsung 40 tahun yang lalu. Akibatnya, katanya, hasil tani di kampung itu sulit untuk dikeluarkan. “ Kalau dijual hasilnya murah karena pembeli hasil ladang menekan harga karena jalan menuju kampung sulit dilalui,” kata Nurhaya, panggilan akrab ibu itu.

Menurut Nurhaya, petugas kecamatan sudah pernah masuk dan melihat kondisi jalan desa itu. Namaun, hingga saat ini tak juga ada pembangunan. “Terpaksalah masyarakat bergotong royong membeli tanah timbun, pasir dan batu untuk menimbunnya. Tapi, kalau hujan deras kembali becek,” katanya.

Warga lainnya, Karim menyebutkan, sekarang ini kondisi jalan itu sudah semakin parah. Lubang dimana-mana, dan semakin tak bisa dilalui. “Kalau kondisi ini terus dibiarkan bisa-bisa kami tak bisa lagi keluar kampung,” katanya.

Sekadar diketahui, jalan itu merupakan satu-satunya jalan menuju kampung tersebut, karena kampung itu di kelilingi oleh perekebunan sawit milik PT Padasa Enam Utama dan sawah warga. Ada jalan pemotongan, tapi jalan tersebut milik PT Padasa Enam Utama, sehingga warga hanya bisa menumpang melintas. Itupun kondisi jalannya hancur lebur. (indra)

TIDAK ADA KOMENTAR