Loading...

TAPUT (medanbicara.com) – Sangat menjanjikan bertani kopi arabica Varietas Sigarar Utang (Kopi Ateng), butuh waktu kurang lebih 18 bulan sudah bisa menikmati hasilnya. Harganya pun selalu stabil, tidak pernah meresahkan petani.

Semenjak kepemimpinan bupati Taput Drs. Nikson Nababan diperiode pertama (2014-2019) hingga periode kedua (2019-2024) selalu menganggarkan pengadaan bibit kopi untuk diberikan secara gratis kepada Kelompok Tani (Koptan) se Taput. Alhasil, sudah banyak petani yang telah merasakan hasilnya.

“Itu benar, butuh waktu 18 bulan sudah bisa menuai hasilnya,” ujar Parada Sitompul (64) pemilik kebun benih kopi bersertifikat saat dikonfirmasi media ini, Sabtu (6/7) di Dusun Siarang-arang Desa Parbaju Tonga Kecamatan Tarutung, Taput.

Saya ingat 20 tahun yang lalu, saat saya memulai usaha ini. Dilahan sekitar 2 hektar saya berjibaku bersama keluarga mengolah lahan hingga menanami benih kopi.

Tidak terasa, setelah dua tahun saya sudah memetik hasilnya. ” Waktu itu harga biji kopi sudah Rp120 ribu per kaleng. Dari kopi inilah saya bisa sekolahkan semua anak saya,” jelas Parada sambil menunjukkan penangkar benih kopi miliknya.

Akui Parada, saya sangat bersyukur kebun ini menjadi penangkar benih dan biji kopi sigarar utang yang telah direkomendasikan Kementrian Perkebunan RI. Itu semua berkat perjuangan dan kerja keras saya dan keluarga.

” Saat ini harga biji kopi ateng sudah berkisar Rp250 hingga 300 ribu per kaleng. Sangat menjanjikan, karena kita bisa panen dua bulan sekali,” katanya.

Animo masyarakat hingga sekarang sangat tinggi untuk bertanam kopi. Banyak yang datang ke kebun ini untuk beli bibit kopi. karena masyarakat sudah tau kita menjual bibit kopi unggul dan berkualitas.

” Mereka yang datang itu kebanyakan perantau yang pulang kampung dan tertarik untuk bertani kopi ateng,” ungkapnya.

Bersamaan, Konter Hutabarat (56) warga Aek Sia Dusun Siarang-arang Desa Parbaju Tonga berterimah kasih kepada bupati Nikson Nababan yang memberikan bibit kopi kepada kelompok taninya tiga tahun yang lalu.

” Dulunya saya tidak tertarik, tapi saya mencoba menanam bibit kopi bantuan itu. Benar.., kurang lebih dua tahun saya sudah panen. Saya telah merasakan hasilnya. Saat ini saya sudah menanami kopi ateng diatas lahan 1 hektar. Sangat menjanjikan lah bertani kopi ini,” kata Konter.

Pantuan media ini, sudah banyak yang menggeluti untuk menanam kopi ateng.

Hal itu kita lihat dari jumlah permintaan bibit kopi yang terus meningkat melalui Koptan dan masyarakat pada Dinas Pertanian dan Perkebunan Taput. (win)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY