Pertamina MOR I Kobarkan Kebaikan : Energi Untuk Hidup Berkualitas

Urmi, salah seorang janda warga jalan Kejaksaan, Medan yang masih menggunakan kompor minyak tanah, karena belum sanggup membeli gas/eko fitri

Energi Baru Ramah Lingkungan Harus Dikembangkan

Kata kunci untuk menciptakan kota bahagia adalah tercapainya kesetaraan dalam kualitas hidup. Untuk meningkatkan kualitas hidup dibutuhkan lingkungan yang menjamin berjalannya fungsi sosial, yang memungkinkan warga berinteraksi dan berkegiatan bersama. Di sana, semua memiliki kedudukan sejajar, yang membuatnya dihargai. Tak seorang pun merasa rendah diri dan dikucilkan.

Pembangunan kota seperti itu merujuk pada perspektif kota sebagai sebuah sistem untuk meningkatkan kesejahteraan manusia,bukan hanya mesin untuk mencapai kemakmuran. Dia adalah energi untuk hidup yang berkualitas, energi yang merata ditengah kehidupan masyarakat dan ramah terhadap lingkungan.

Namun, sayangnya energi yang ada saat ini belum sepenuhnya bisa dirasakan oleh semua masyarakat, terutama masyarakat miskin yang berada di tengah kota. Misalnya, penggunaan gas untuk memasak. Sebagian masyarakat memilih untuk tidak menggunakan gas karena tidak sanggup untuk membeli gas.

Urmi (31), janda empat anak yang tinggal di jalan Kejaksaan, Medan salah satunya. Perempuan yang harus menghidupi keempat anaknya dari menarik becak bermotor (betor) dan menjual botot (barang-barang bekas) itu kini tinggal di rumah kontrakan kecil dibawah jembatan jalan Kejaksaan. Harga kontrakan rumahnya Rp400.000 perbulan. Sebelumnya, ia menempati rumah kontrakan 3×2 meter dipinggir jembatan jalan Kejaksaan dengan harga rumah kontrakan Rp300.000 perbulan.

Kepada medanbicara.com, Urmi yang juga bekerja sebagai petugas kebersihan di salah satu perusahaan di Medan mengaku, tidak pernah memakai gas untuk memasak karena baginya harga gas masih kemahalan. Selama ini, Urmi memasak menggunakan kompor tradisional yang memakai bahan bakar minyak tanah.

“Bagaimanalah mau pakai gas, harga gas masih mahal. Bisa saja sebenarnya kalau mau pakai gas, hanya saja uangnya untuk keperluan anak sekolah dan keperluan makan sehar-hari. Tabung gasnya saja Rp60.000 an, belum lagi harus beli kompor gasnya. Belum lagi kalau gas habis, mesti beli lagi. Sementara, yang ada hanya kompor lama yang pakai minyak tanah ini. Kan, sayang uangnya kalau dipakai beli kompor sama gasnya. Sedangkan masih banyak keperluan yang lain,”kata Urmi yang mengaku tak pernah makan bangku sekolahan sejak kecil.

Dia berharap, ada kebijakan baru dari pemerintah yang memberikan subsidi gas sangat murah kepada masyarakat miskin sepertinya. Supaya, kedepan energi yang dibangun pemerintah juga bisa dirasakan oleh masyarakat sepertinya.

“Kalau harga gas dipasaran Rp16.000, bahkan ada yang jual Rp20.000, kan mahal juga bagi saya. Mintanya bisa lebih murah, supaya orang-orang seperti saya ini bisa merasakan pakai gak juga,”ujarnya.

Pengamat Sosial dari Universitas Sumatera Utara (USU), Agus Suryadi tak menampik, masih banyak masyarakat bawah yang belum menggunakan energi gas untuk kebutuhan rumah tangganya. Selain harus mengoptimalkan lagi sosialisasi tentang gas dan membuat kebijakan harga gas yang lebih murah untuk masyarakat miskin, sebenarnya pemerintah juga harus mulai membangun dan mengembangkan konsep energi terbarukan yang ramah lingkungan.

“Misalnya, Indonesia kan memiliki Sumber Daya Alam (SDA) batubara yang luar biasa. Dulu sebelum ada gas, jika tidak salah sudah ada disosialiasikan soal batubara ini sebagai energi alternatif yang jelas lebih murah dan jauh lebih efesien. Ya, pemerintah harus bisalah melihat potensi-potensi SDA untuk kepentingan masyarakat. Mau itu untuk gas, air ataupun listrik. Harus dikembangkan energi terbarukan yang tidak merusak lingkungan,”katanya kepada medanbicara.com, Rabu (28/3).

Hal yang sama dikatakan oleh Pengamat Tata Kota dan Lingkungan, Jaya Arjuna. Dia mengatakan, energi yang aman dipakai masyarakat adalah energi yang terbarui seperti yang berasal dari aliran air, udara dan cahaya matahari. Selain itu juga yang bersumber dari Sumber Daya Alam seperti, daya angin, daya uap, panas bumi dan lainnya termasuk, batubara.

“Pada umumnya, kita masih menggunakan bahan bakar dari fosil. Meskipun kita dianggap terlambat dari negara-negara lain. Tapi, kita berharap, pemerintah dapat memprioritaskan soal energi terbarukan ini. Kita kaya dengan Sumber Daya Alam, kita punya Sumber Daya Manusia yang kuat. Sudah seharusnya kita bisa mengembangkan energi terbarukan yang ramah lingkungan untuk hidup yang lebih berkualitas,”ucapnya.

(Oleh: Eko Fitri Brahmawati) Penulis adalah Wartawan medanbicara.com. Tulisan ini diikutsertakan dalam Anugerah Jurnalistik Pertamina MOR I (Road To AJP Nasional 2018).

 

Loading...