Zulfirmansyah dan anaknya. (dok/dtc)
Loading...

PADANG (medanbicara.com)- Dua warga negara Indonesia menjadi korban penembakan brutal di masjid di Selandia Baru (New Zealand). Mereka diketahui merupakan warga Sumatera Barat.

Kedua korban ini adalah Zulfirmansyah dan Mohammad Rais, yang merupakan ayah dan anak, yang sedang berada di Masjid Lindwood.
Hendra Yaspita, kakak kandung korban di Kota Padang, melalui pesan singkatnya membenarkan hal tersebut. Pihak keluarga, kata Hendra, mendapat kabar tentang apa yang menimpa adiknya itu melalui istri korban.

“Iya, itu adik saya (Zulfirmansyah) yang menjadi korban. Dia adik kandung saya paling terakhir dari enam bersaudara. Dapat kabar dari istri beliau,” kata Hendra kepada wartawan.

Ia menjelaskan saat ini kondisi Zul masih koma dan mendapat perawatan intensif rumah sakit setempat. Hendra menceritakan, sebelum adiknya itu memutuskan pindah dan bekerja di Selandia bersama keluarganya, ia sempat berdomisili di Yogyakarta. Korban merupakan seniman asal Kabupaten Pesisir Selatan.

“Pindah ke sana (Selandia Baru) bulan Januari kemarin. Untuk bekerja. Dia asli orang Minang, keluarga ada di Sumatera Barat, yaitu di Kota Padang,” jelas Hendra.

Korban penembakan di New Zealand, Zulfirmansyah, dikenal teman-temannya sebagai pribadi yang taat beribadah. Selama di Yogya, perupa asal Padangi, Sumatera Barat, tersebut aktif dalam komunitas Sakato.

Teman satu komunitas Zulfirmansyah, Hamdan, mengenal Zulfirmansyah sejak mengenyam bangku sekolah di SMSR Padang. Setelah lulus Sekolah, ia dan Zulfirmansyah melanjutkan pendidikan di ISI Yogyakarta.

“(Kenal Zulfirmansyah) sudah lama sejak sekolah di SMSR Padang, satu sekolah. Tapi akrabnya pas di sini (ISI dan komunitas Sakato). Dia senior saya, tepatnya dua tahun di atas saya,” papar Hamdan, Jumat (15/3/2019) malam.

Menurut Hamdan, keseharian Zulfirmansyah termasuk perupa yang sederhana. “Orangnya ya biasa saja sih. Tapi alhamdulillah dia suka beribadah ke masjid,” ucapnya.

Sejauh ini Zulfirmansyah masih tercatat sebagai anggota aktif di Sakato Art Community. Bahkan, ia menyebut bahwa setelah lulus dari ISI Yogya, Zulfirmansyah masih aktif melukis hingga saat ini. “Masih aktif (melukis),” ujar Hamdan.

Lebih lanjut, aktivitas seni yang dilakukan Zulfirmansyah memang kebanyakan dihabiskan di Yogyakarta. Meski demikian, Hamdan mengatakan bahwa Zulfirmansyah beberapa kali sempat pulang ke kampung halamannya.

“Setelah lulus itu dia di Yogya saja, tapi sempat beberapa tahun pulang ke Padang dan ke Yogya lagi. Di sini (Yogya) setelah menikah tinggal sama istrinya, kalau keluarganya di Padang,” katanya.

Terkait peristiwa yang dialami oleh Zulfirmansyah, Hamdan mengungkapkan rasa prihatinnya. “Kalau kondisi terkini belum tahu, tapi kalau info dari grup (chat Sakato) tadi kritis,” pungkasnya.

Sebelumnya, korban tewas dalam penembakan brutal di dua masjid di Christchurch, New Zealand, bertambah menjadi 49 orang. Kepolisian Selandia Baru menyebut penembakan brutal itu direncanakan sangat matang.

Zulfirmansyah bersama anak semata wayangnya merupakan WNI yang termasuk menjadi korban kebrutalan penembakan membabi buta di sebuah masjid di New Zealand. Keduanya kini dikabarkan dalam kondisi kritis di rumah sakit. (dtc)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY