R calon istri kedua Abu Hamzah. (ist/osc)
Loading...

SIBOLGA (medanbicara.com)–Tim Densus 88 Anti Teror Mabes Polri menangkap terduga teroris yang diduga masuk jaringan Abu Hamzah alias Husein alias Upang, Rabu malam (13/3/2019) sekitar pukul 21.20 WIB.

Data dari kepolisian, pelaku yang tertangkap berinisial Ros, warga Jl Ampera/Jl Protokol Bagan, Dusun II, Desa Bagan Pekan, Tanjungbalai, Sumut.

Wanita berusia 22 tahun ini dibekuk Tim Densus 88/AT di kawasan Kelurahan Sirantau, Kecamatan Datukbandar, Kota Tanjungbalai.

Menurut Kapolda Sumut, Irjen Pol Agus Andrianto, satu di antara terduga teroris yang ditangkap di Tanjungbalai adalah wanita. Dia calon istri kedua Abu Hamzah.

Perempuan kelahiran Baganbatu, Provinsi Riau itu diketahui merupakan mantan istri Hendri Syahli Manurung alias Andre, terduga teroris yang ditembak mati Tim Densus pada bulan Juni 2018 lalu, persis di saat Bulan Ramadan.

Selain sebagai calon istri kedua, wanita berinisial R itu direkrut untuk menjadi calon pengantin (pelaku) bom bunuh diri.

Agus Andrianto juga mengatakan, penangkapan kedua terduga teroris di Tanjungbalai berkat hasil pemeriksaan dan pengembangan yang dilakukan oleh tim Densus 88 Anti Teror.

“Masih dalam pengembangan. Tapi informasinya terduga teroris R akan menjadi istri kedua AH (Abu Hamzah) dan direkrut untuk jadi pengantin,” kata Agus kepada wartawan, Kamis (14/3).

Sementara di Kota Sibolga, kata Sumatera Utara, sudah 4 terduga teroris yang ditangkap.

“Jadi ada empat terduga teroris di Sibolga yang sudah ditangkap,” ungkap Agus.

Berdasarkan data, empat terduga teroris yang ditangkap yakni Abu Hamzah alias Husein alias Upang. Ia ditangkap pada Selasa (12/3) sekira pukul 14.00 WIB.

Abu Hamzah ditangkap di Jalan Cendrawasih atau Jalan Selamat, Kelurahan Pancuran Bambu, Kecamatan Sibolga Sambas.

Kemudian, AK alias Ameng turut ditangkap. Selanjutnya terdiga teroris berinisial Hal ditangkap di Jalan SM Raja Simpang Jalan Gambolo, Kelurahan Pancuran Kerambil, Sibolga Sambas pada Selasa (12/3) pukul 10.30 WIB.

Terbaru yakni terudga teroris berinisial M. Ia ditangkap pada Kamis, (14/3/2019).

Sementara, seorang terduga teroris, yakni istri dari terduga teroris Abu Hamzah, yang diketahui berinisial As alias Sol, tewas bersama anaknya.

Keduanya tewas dengan cara meledakkan diri dengan menggunakan bom di dalam rumah mereka di jalan Cendrawasih, Gang Serumpun sekira pukul 01.30 WIB pada Rabu (13/3).

Kapolri, Jenderal Tito Karnavian menyebut Solimah, istri terduga teroris Sibolga, Sumut, Husain alias Abu Hamzah diduga berniat bunuh diri.

“Suaminya menyampaikan istrinya itu ingin bunuh diri terus, dalam istilahnya istimata. The fastest way to the heaven. Cara paling cepat masuk surga,” kata Tito Karnavian saat menghadiri Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia IX (Konaspi IX) di auditorium Universitas Negeri Padang, Kamis (14/3/2019).

Polisi, sambung Tito, memastikan ada delapan bom di rumah Abu Hamzah di Jl KH Ahmad Dahlan, Gang Sekuntum, Sibolga.

“Kita menemukan yang meledak dua, yang tidak meledak lima. Jadi total yang meledak dengan ledakan pertama ada tiga. Ada delapan totalnya,” terang Tito.

Penangkapan terduga teroris Sibolga, dijelaskan Tito, merupakan pengembangan dari penangkapan terduga teroris berinisial R di Lampung pada Sabtu (9/3).

“Ditangkap di Lampung pelakunya. Ngasih tahu temannya di Sibolga punya bom. Berangkat tim ke sana, dengan (cara) biasa, silent. Nggak mau grabak-grubuk. Targetnya suami ditangkap baik-baik. Anggota masuk ke dalam rumah, nggak sadar ternyata sekeliling rumah sudah dipasang jebakan. Begitu kawat ditendang, meledak. Anggota kita terluka,” katanya.

“Jadi bom yang dibuat switching itu dari istrinya,” imbuhnya.

Polisi berupaya melakukan negosiasi dengan istri Abu Hamzah berjam-jam. Namun istri terduga teroris Sibolga itu meledakkan bom dan tewas bersama anaknya.

Dari penyelidikan, diketahui Abu Hamzah belajar merakit bom secara online.

“Belajarnya secara online. Ini teknologi luar biasa. Mereka namanya sekarang istilahnya disebut lone wolf. Ini tidak memiliki jaringan yang luas, tapi bergerak sendiri. Membaca, ikut grup radikal, kemudian pemahamannya mulai diadopsi,” kata Tito.(pjs/dtc)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY