Ratusan Mahasiswa USU Aksi Tuntut Tanggung Jawab Rektorat

Aksi mahasiswa USU menuntut pencopotan satpam yang melakukan tindakan kekerasan terjadap Manuel Silaban/ist

MEDAN (medanbicara.com)-Ratusan Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dan Pemerintahan Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (Pema USU) berunjuk rasa di depan gedung Biro Rektorat USU, Selasa (24/10). Aksi mereka untuk menuntut pertanggungjawaban pihak rektorat atas penganiayaan dan penculikan Imanuel Silaban yang dilakukan satpam di dalam kampus.

“Jika tidak diusut tuntas, maka kampus akan kami hijaukan,” teriak Gubernur FIB USU Yosua Yordan Pangihutan Manalu dalam orasinya yang disambut riuh para mahasiswa yang ikut aksi.

Menurutnya, rektorat harus bertanggung jawab atas tindakan represif satpam terhadap Imanuel Silaban. Mereka menuntut agar rektorat mengevaluasi tugas pokok satpam yang seharusnya menjaga dan melindungi, bukan malah melakukan tindakan tidak manusiawi di tengah-tengah tempat intelektual.

“Kami menuntut pihak rektorat memecat para satpam yang terlibat dalam tempo sesingkat-singkatnya. Kami juga menuntut pihak kepolisian dan semua pihak yang bertanggung jawab atas nama negara, mengusut tuntas kasus ini,” tegasnya.

Ia menegaskan, jika tuntutan para mahasiswa tidak direspon cepat, maka kampus akan diboikot, dilibur paksa dan dihijaukan.

Dalam aksi tersebut, para mahasiswa diterima Wakil Rektor (WR) 1 USU Prof Rosmayanti, WR 2 Dr Muhammad Fidel Ganis, WR 5 Ir Luhut Sihombing serta para staf rektorat USU.

Prof Rosmayanti mengatakan, seyogyanya rektor akan hadir, namun rektor sedang ada tugas ke Jakarta dalam rangka rapat anggaran tahun 2018.

“Dari Batam, beliau langsung bertolak ke Jakarta. Karena itu, kami diberi wewenang. Tidak semua tuntutan yang bisa kami jawab, karena banyak hal yang harus disertai dukungan data. Aspirasi yang lain, kita bisa duduk bersama sebagai tindak lanjut tuntutan ini,” katanya.

WR 5 USU Luhut Sihombing menambahkan, terkait kejadian yang menimpa Imanuel Silaban, pihaknya sudah melakukan tanggung jawab terbaik. Sudah ditempatkan di rumah sakit terbaik di kota Medan ini. Biaya juga sudah ditanggung.

“Semoga Imanuel kembali sehat. Kita doakan bersama. Kami mengutuk keras terhadap tindakan penganiayaan tersebut. Kasus itu sudah kita serahkan kepada polisi, sudah kita surati agar dilakukan investigasi. Mudah-mudahan secepatnya diketahui pelakunya, agar dapat diambil keputusan terbaik. Jika satpam salah, akan di hukum dan dipecat. Jangan main hakim sendiri,”pungkasnya.

Terkait jam malam, Luhut menyatakan, sejatinya tidak ada jam malam, namun jika ada keperluan kegiatan akademik diperbolehkan.

Dari amatan, aksi mahasiswa berlangsung tertib. Meski sempat hujan deras mengguyur kota Medan, mahasiswa sempat bertahan dengan terus meneriakan yel-yel serta menyanyikan lagu perjuangan mahasiswa. (eko fitri)

 

Mungkin Anda juga menyukai