Bupati Karo, Terkelin Brahmana SH memberikan penghargaan pengusaha terbaik bayar pajak. (ist)
Loading...

KARO (medanbicara.com)-Bupati Karo, Terkelin Brahmana mengatakan dalam UU Nomor 18 tahun 2012 tentang pangan menekankan, bahwa penyelenggaraan pangan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia secara adil, merata dan berkelanjutan berdasarkan kedaulatan pangan, kemandirian dan ketahanan pangan.

“Ketahanan pangan menyatakan sebagai kondisi terpenuhinya, tercermin dan tersedianya pangan yang cukup baik jumlah maupun mutunya, aman, bergizi, merata, terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama dan keyakinan dan budaya masyarakat untuk dapat hidup sehat, aktif dan produktif secara berkelanjutan,” kata Terkelin ketika dikonfirmasi wartawan terkait program Ketahanan Pangan di Kabupaten Karo, Selasa (03/09/2019).

Untuk itu, pentingnya sebuah program yang tak berbasis proyek dalam mewujudkan kemandirian pangan dan kesejahteraan masyarakat. Tanpa dukungan pangan yang cukup dan bermutu, tidak mungkin dihasilkan sumberdaya manusia yang sehat dan tangguh berkompetisi.

Demikian juga pembangunan pertanian, katanya Bupati lagi, harus terintegrasi dengan agrobisnis dan bisnis-bisnis lain, seperti agrowisata. Sebab, tren agrobisnis akan terus meningkat, jika hanya fokus agrikultur tentu sangat berat. Ke depan, harus dikelola terintegrasi dengan sektor lain

“Dengan menggali potensi produk unggulan yang dimiliki Kabupaten Karo, maka dapat memacu petani untuk memberikan nilai tambah dan daya saing prioritas pertanian melalui perbaikan kualitas produk unggulan daerah,” ucapnya.

Seperti diketahui, sambung Terkelin Brahmana, tantangan pemenuhan kebutuhan pangan kian berat, misalnya lahan produktif semakin menyempit setiap tahunnya. Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk untuk lahan perumahan maupun perluasan tempat pemukiman.

“Dengan tantangan tersebut tak mungkin memproduksi pangan hanya dari lahan sawah yang ada saat ini. Karena itu Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian dan dinas terkait lainnya harus kreatif menggali alternatif lain dengan perluasan areal pertanian pangan dengan memanfaatkan lahan-lahan yang sub optimal. Salah satunya adalah pengembangan serta optimalisasi lahan kering dengan intensifikasi dan ekstensifikasi,” kata Terkelin Brahmana.

Dia mengakui, memang lahan kering mempunyai beberapa kendala. Lahan kering iklim basah memiliki kendala tingkat kesuburan tanah yang rendah, ketersediaan air terbatas pada musim kemarau, degradasi lahan dan potensi erosi tinggi, dan variabilitas perubahan iklim (ancaman kekeringan).

“Lahan kering selama ini kerap tak pernah dilirik sebagai sumber pangan. Padahal potensi lahan kering untuk mendukung ketahanan pangan mulai memiliki prospek cukup tinggi. Potensi lahan kering untuk pengembangan pertanian produktif di Kabupaten Karo sangat besar,” imbuh Bupati Karo. (ogo)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY