Ramai-ramai Desak Jokowi Realisasikan Tol Berastagi-Medan

Kondisi Jalan Letjen Djamin Ginting Berastagi–Medan saat macet. (ist)

KABANJAHE (medanbicara.com)-Bukan hanya akademisi, tokoh masyarakat, pemerintah daerah, kali ini pengusaha dari 8 (delapan) Kabupaten mendesak Presiden Jokowi secepatnya merealisasikan Jalan Tol Berastagi–Medan.

Hal ini dikatakan pengusaha Elektronik, Josen Sembiring (40) di Komplek Lahir Raja Munte kepada wartawan di Kabanjahe, Selasa (13/8). Dikatakan Josen, tidak ada lagi alasan pemerintah pusat tidak membangun jalan bebas hambatan itu. Lihat, jalan Letjen Jamin Ginting Berastagi–Medan, selalu terjadi kemacetan arus lalulintas, di hari libur, 4 hingga 5 jam menempuh 76 Km, sudah hal biasa bagi pengguna jalan.

Apa lagi truk konteiner pembawa minuman memasuki badan jalan, mau tidak mau para pengguna jalan harus ikut dari belakang dikerenakan padatnya arus lalulintas berlalu-lalang di sepanjang jalan Letjen Jamin Ginting itu. “Apa kah kondisi jalan seperti itu masih tetap dipertahankan? Kalau kita berkata jujur, Pemerintah Jokowi harus membangun jalan tol yang diperlukan ratusan ribu jiwa itu,“ kata Sembiring.

Terpisah, mewakili pengusaha dari 8 kabupaten, R Lumban Gaol, pengusaha perhotelan besar di Aceh Tenggara itu mengatakan, menyesalkan tertundanya pembangunan tol Jalan Letjen Jjamin Ginting Medan–Berastagi. .

“Saya menduga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) arogansi kekuasaan, karena Kementerian PUPR terkesan memperioritaskan pembangunan tol di daerah daerah tertentu,” kesalnya.

“Sekadar diketahui, jika truk pengangkut barang rusak di badan jalan, hanya sebentar puluhan kilometer terjadi kemacetan, betapa ruginya kalangan pengusaha, pertanian dan parawisata dari 8 kabupaten ini. Memang kita dari Aceh Tenggara, tapi harus melintasi jalan Jamin Ginting itu,” beber Lumban Gaol.

Lanjutnya, Tol Medan–Berastagi menjawab tantangan kepadatan volume kendaraan beberapa tahun mendatang di Jalan Letjen Jamin Ginting, kepadatan volume kendaraan pasti tidak akan terelakkan, pertambahan berbagai jenis moda transportasi begitu pesat, sementara luas badan jalan sangat terbatas, apa lagi alasan negara tidak membangun jalan tol itu.

Terlebih lagi, satu-satunya jalan nasional penghubung ke Ibu Kota Provinsi Sumut dengan sejumlah kabupaten, baik di Sumut maupun Aceh Tenggara dan Aceh Selatan, hanya Jalan Medan-Berastagi, yang paling cepat untuk dilalui.

“Sudah cukup lama ketidakadilan ini dirasakan warga dari 8-11 kabupaten Sumut/Aceh merasakan arus lalu lintas yang selalu terjadi kemacetan. Mirisnya lagi, coba lihat, di bagian selatan kawasan Danau Toba, ada Tol Tebing Tinggi-Parapat, ada dua bandar udara dan jalur kereta api, tahun depan akan dibangun tol Medan– Pematang Siantar–Parapat. Belum lagi yang lainnya. Sementara kawasan utara, seperti Kabupaten Karo, Dairi, dan Pakpak Barat, Humahas, Samosir dan Simalungun serta sejumlah kabupaten dari Aceh Tenggara dan Aceh Selatan terkesan telantar dan terpinggirkan dalam pembangunan berskala nasional,” kecam Robert Tarigan, SH.

Pembangunan Tol Medan–Berastagi sangat penting dipacu, apalagi itu adalah jalan strategis ekonomi yang memiliki peran sangat penting bagi daerah. ”Dengan nanti adanya tol ini, akan memberikan ekspektasi yang positif dan produktif bagi pertanian dan pariwisata, dua sektor andalan Kabupaten Karo, maupun dari daerah-daerah lainnya,” ujar Robet.

Menurut data dan informasi dari Ikatan Cendikiawan Sumatera Utara, bahwa tol Medan–Berastagi sudah sangat layak dan pantas disegerakan. Pasalnya, tahun 2014 jalan Letjen Jamin Ginting Medan–Berastagi dilintasi 21.231 unit kendaraan per hari. Kini mencapai 28.000 unit kendaraan per hari akibat pesatnya pertambahan berbagai jenis moda transportasi.

Dampak kemacetan yang kerap terjadi sangat merugikan dunia pariwisata, pertanian, perhotelan, dunia usaha dan sektor-sektor lainnya disamping sudah mulai mengganggu aktivitas sosial budaya, seperti upacara adat kematian dan perkawinan. “Bahkan mobil ambulan (emergency) yang kerap melintas dari 11 kabupaten di Sumut dan Aceh menuju Rumah Sakit ternama di Medan sering terjebak di tengah antrean kemacetan panjang,” katanya.

Warga juga sering mengalami tiket penerbangan hangus akibat terjebak kemacetan di tengah jalan berjam-jam. Bahkan parahnya lagi, tidak sedikit warga yang mengalami bermalam di tengah jalan akibat terjebak antrean kemacetan yang parah. Jalan ini satu satunya jalur perekonomian bagi 2 juta warga di 8 kabupaten Sumut dan Aceh. Setiap kemacetan selama 6 jam saja sehari, kerugian mencapai Rp 3 milyar hingga Rp 4 miliar. Dengan kondisi jalan wisata Medan-Kabupaten Karo yang semakin buruk, investor sulit masuk ke sejumlah daerah seputaran Kabupaten Karo.

Sebagai pintu gerbang Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Danau Toba bagian utara jalur Medan – Kabupaten Karo, tidak memiliki daya saing dan semakin jauh tertinggal. “Solusinya, peningkatan Jalan Medan-Berastagi, Tol atau pembangunan jembatan layang semakin urgen dipacu untuk meningkatkan daya saing sejumlah daerah bagian utara KSPN Danau Toba,” katanya. (ogo)

Mungkin Anda juga menyukai