Terjadi di Puskemas Umar Damanik Tanjungbalai, Pasien BPJS Mandiri Disuruh Beli Obat Sendiri

Nurbaiti (40) ketika berada di Pukesmas Umar Damanik Kota Tanjungbalai saat berobat atas penyakit yang dideritanya, Kamis (8/5/2021). (Gus/Ist/mbc)

Tanjungbalai (medanbicara.com)- Hanif (43), seorang peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS) Mandiri mengaku kecewa atas pelayanan di Puskesmas Umar Damanik, Kota Tanjungbalai.

Awalnya, dia mebawa istrinya Baiti (40) berobat di Puskesmas Umar Damanik, Kota Tanjungbalai. Saat menerima obat dari petugas farmasi yang ada di puskesmas tersebut, obat yang dia terima tidak sesuai dengan resep yang diberikan oleh dokter.

Tiga jenis obat yang tertera di resep, hanya dua obat yang diberikan kepadanya. Saat Baiti bertanya obat tetes telinga, petugas farmasi yang tidak memakai bad nama itu mengatakan persediaan obat di puskesmas habis, dan meminta pasien untuk membeli sendiri di tempat lain.

Hanif mengatakan kepada wartawan, sangat kecewa dengan pelayanan Puskesmas Umar Damanik. Dia menambahkan peserta BPJS seharusnya menerima haknya saat berobat. Dan kehabisan persediaan obat bukan tanggungjawab pasien, tetapi tanggungjawab puskesmas.

“Keluarga saya peserta BPJS Mandiri. Rp160.000 per bulan dikali jumlah anggota keluarga kami membayar. Kami membayar sebelum kami sakit. Tetapi, saat kami berobat kami masih dibebankan untuk membeli obat. Dan memakai uang sendiri dengan alasan mereka kehabisan persediaan obat. Jadi buat apa kami membayar setiap bulannya kalau kami masih membeli obat sendiri?” sesalnya.

Kepala Puskesmas Umar Damanik Kota Tanjung Balai, dr Yenni Melia Susanty mengatakan, memang benar kalau puskesmas kehabisan persediaan obat, dan belum sempat belanja obat-obatan. Dan dirinya tidak ada menginstruksikan kepada bawahannya agar pasien membeli obat sendiri dengan uang sendiri.

“Saya meminta maaf, ini kelalaian kami. Saya tahu kalau obat tetes telinga sudah habis dan dana BPJS sudah ada hanya kami belum sempat berbelanja obat-obatan. Dan kami akan segera membeli untuk persediaan obat,” katanya.

Di tempat terpisah, Ketua GARI-SU (Generasi Aktifis Reformasi Indonesia–Sumatera Utara), Rudy Bakti mengaku, dirinya mencium adanya dugaan kecurangan oknum di Puskesmas Umar Damanik. Dia mengatakan biaya berobat peserta BPJS Mandiri telah dibayar oleh peserta sebelum sakit. Dan Kepala Puskesmas harus berperan aktif dalam persediaan obat-obatan.

Dirinya juga berjanji akan menindaklanjuti hal ini, dan melakukan investigasi mengapa dana dari BPJS sudah ada tetapi persediaan obat tidak ada. Dan bila perlu GARI-SU akan mendesak Dinas Kesehatan mencopot jabatan Kepala Puskesmas.

“Tidak ada alasan apapun kepada peserta BPJS untuk mendapatkan haknya. Kinerja Kepala puskesmas Umar Damanik sangat buruk. Dan petugas farmasi harus dievaluasi. Kami mencium adanya dugaan kecurangan dari petugas farmasi Puskesmas Umar Damanik. Dengan memintaa pasien membeli obat sendiri, tetapi petugas tidak mencoret nama obat yang tidak ada dari resep dokter, jelas menimbulkan kecurigaan. Dan bila perlu saya akan mendesak pihak yang berkompeten untuk menyelidiki hal ini,” pungkasnya. (Gus/mbc)

Mungkin Anda juga menyukai