Hasil RDP Komisi III DPRD Medan, Beras Bulog Dioplos Ternyata Hoax

MEDAN (medanbicara.com) – Komisi III DPRD Medan dengan menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Perum Bulog Wilayah Sumut, Perum Bulog Cabang Medan, PUD Pasar Kota Medan dan Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan di ruang rapat Komisi III Gedung DPRD Medan Jalan Kapten Maulana Lubis, Kota Medan, Senin (20/02/2023).

Hasil rapat itu menyimpulkan, isu adanya beras Bulog yang dioplos tersebut adalah hoax atau tidak benar. Rapat juga menyimpulkan bahwa kabar pengoplosan beras itu hanya kesalahan persepsi belaka. “Dapat kami pastikan bahwa isu itu tidak benar, itu kabar hoax, ini hanya masalah persepsi saja,” ucap Pimpinan Wilayah Bulog Sumut, Arif Mandu dalam pertemuan tersebut.

Dalam RDP dipimpin langsung Ketua Komisi III, Afif Abdillah dan diikuti Sekretaris Komisi, Hendri Duin serta Anggota Komisi, R Muhammad Khalil Prasetyo dan Edward Hutabarat tersebut, Arif mengatakan, pergantian kemasan beras dari karung 50 Kg menjadi karung 5 Kg bukanlah bentuk oplosan.

“Jadi beras Bulog dengan ukuran 50 Kg itu diganti kemasannya menjadi 5 Kg agar terjangkau masyarakat. Namun untuk harga tetap mengikuti HET (Harga Eceran Tertinggi), yaitu Rp 9950/Kg atau Rp 49.750/kemasan 5 Kg,” ujar Arif. Dijelaskan Arif dalam RDP yang turut dihadiri Kadis Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan, Benny Iskandar Nasution serta Dirut PUD Pasar Medan, Suwarno berserta jajarannya direksi PUD Pasar lainnya, pada dasarnya Bulog menjual beras dengan kualitas baik tersebut ke Pemko Medan melalui PUD Pasar yang bekerjasama dengan PT Pilar Grup.

Setelahnya, PUD Pasar mendistribusikan beras tersebut melalui pasar-pasar yang ada di Kota Medan.“Jadi selama dijual dengan mengikuti HET, yaitu Rp 9950/Kg, maka tidak ada masalah,” katanya. Senada dengan Arif, Kadis Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan, Benny Iskandar Nasution mengatakan bahwa isu pengoplosan beras tersebut adalah kesalahan persepsi.

“Jadi kemasan atau karung 50 Kg memang diubah menjadi karung 5 Kg, sifatnya hanya untuk membantu masyarakat dalam membeli beras. Kalau membeli beras 50 Kg, pasti banyak yang tidak mampu walaupun harga perkilogramnya murah. Untuk itu dibuat dengan kemasan 5 Kg, namun harga HET tetap sama, yaitu Rp 9950 perkilogramnya,” kata Benny. Selain itu, Benny juga memastikan walaupun secara visual kemasan tersebut tertulis merk tertentu, namun kemasan beras tersebut tetap tertulis kata ‘Bulog’.

“Untuk kemasan 5 Kg pun, kita pastikan ada tulisan ‘bulog’ nya di karung beras itu, artinya masyarakat tetap tahu kalau itu adalah beras bulog. Dan yang pasti, kemasannya kita buat lebih baik,” tuturnya. Sementara itu, Dirut PUD Pasar Kota Medan, Suwarno juga menegaskan bahwa perubahan kemasan tersebut semata-mata hanya memudahkan masyarakat untuk membeli beras kualitas dengan harga terjangkau. Meskipun dijual dengan kemasan 5 Kg, beras Bulog yang didistribusikan melalui PT Pilar Grup tersebut tetap dijual dengan harga HET Rp 9950/Kg.

“Dan terbukti animo masyarakat sangat tinggi terhadap beras bulog ini. Dalam sehari, kita menjual 20 sampai 30 ton beras bulog dengan harga HET tersebut, respon masyarakat sangat positif. Harapan kami, setiap harinya Bulog bisa meningkatkan supply berasnya hingga 50 ton,” sebutnya.

Menanggapi penjelasan Perum Bulog, PUD Pasar dan Dinas Koperasi UKM Perindag, Ketua Komisi III, Afif Abdillah, meminta semua pihak agar dapat melakukan pengawasan terhadap pendistribusian beras Bulog.“Alhamdulillah bila kabat ini tidak benar atau hoax. Meskipun begitu, tetap harus ada pengawasan yang serius. Masalah beras ini penting, sebab ini masalah hajat hidup orang banyak,” tegas Afif. (rel/za)

Mungkin Anda juga menyukai