Warga Demo Kepsek Terduga Pelaku Pelecehan Seksual, Ini Curhat Istrinya…

SIMALUNGUN (medanbicara.com)-Puluhan warga Desa Marubun Bayu, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun, ramai-ramai menggelar pertemuan di balai desa setempat, Sabtu (30/1/2021) sekira pukul 10.00 Wib.

Warga mendesak dan menuntut agar Kepsek di desanya berinisial AM, dicopot dari jabatan Kepsek Sekolah Dasar di desanya, lantaran diduga telah melakukan pelecehan seksual terhadap seorang anak seorang warga, sebut saja Bunga (13), muridnya Kelas VI Sekolah Dasar di desanya.

Selain mendesak mundur, warga yang terdiri dari ibu-ibu ini juga meminta agar orang nomor satu di Sekolah Dasar (SD) Negeri Pardamean Nauli Tanah Jawa, Desa Marubun Bayu tersebut segera pindah tidak berdomisili di desanya (Marubun Bayu), dan kepada kepihak yang berwajib untuk memproses dugaan pelecehan yang dilakukan oknum Kepses di desanya.

Sebab, warga sudah menanggung malu akibat perbuatan oknum kepsek yang dianggap tidak bermoral. Warga tidak mau Sekolah Dasar di desanya dipimpin oleh pejabat yang tidak mempunyai moral.

“Kami ingin Kepsek di desa ini dicopot dari jabatanya. Kami juga minta Pak AM pindah tidak tinggal lagi di kampung ini, kami tidak mau punya pemimpin yang tidak mempunyai moral. Apalagi, kami di desa ini tidak mau ada lagi yang menjadi korban,” teriak warga, yang menghadiriaksi damai di Balai Desa Marubun Bayu, Kecamatan Tanah Jawa, Sabtu (30/1/2021).

Dengan rasa kecewa warga meminta agar kepala desa segera mengambil sikap, setelah warga menyerahkan surat dengan membubuhkan tandatangan warga.

“Pertemuan ini sebagai bentuk kekecewaan kami terhadap pemimpin sekolah yang dengan sengaja telah mencoreng nama baik desa kami,” ujar seorang warga, Marga Silalahi dan diamini warga desa lainya.

Warga yang hadir sempat terpancing emosi dan berteriak lalu harus kecewa. Pasalnya, istri oknum Kepsek yang hadir dalam pertemuan di Balai Desa Marubun Bayu sempat memprotes warga yang mempersoalkan permasalahan dugaan pelecehan yang dihadapi suaminya.

“Suami saya sudah diberi sanksi tidak menjabat kepala sekolah lagi, dan sudah dipindahkan mengajar jauh dan saat ini masih dalam proses di dinas. Kenapa, saya (kami), harus pindah dan tidak boleh berdomisili di Desa Marubun Bayu ini. Saya sudah cukup lama menetap di sini, tanah sendiri, rumah saya sendiri, kenapa saya (kami) tidak boleh tinggal di desa ini,” katanya disambut teriak warga.

“Kemudian, katanya, ada permasalah warga lain, hanya didenda lima belas juta, anaknya sampai lahir, kenapa warga tidak mempermasalahkan, dan saya (keluarga) tidak terima rumah kami subuh dini hari tadi di lempar kotoran sapi,” ucapnya di hadapan warga.

“Sementara kami sudah berdamai dengan orang tuanya (korban), dan saat ini sudah baik-baik saja, cobalah tanyakan keorang tuanya (korban), panggil dia datang kemari, saya sebagai istri juga tidak setuju dengan perbuatan suami saya, tapi kami sudah berdamai,” sebutnya disambut teriak warga yang hadir.

Di Balai Desa Marubun Bayu, massa bertemu Pangulu Marubun Bayu Hendri Manik, Kanit Intel Polsekta Tanah Jawa, AKP Masrianto dan Bhabinkamtibmas Polsekta Tanah Jawa meminta warga bersabar dan tidak melakukan perbuatan anarkis.

”Kami minta warga bersabar, karena proses hukum terhadap yang bersangkutan masih dalam penyelidikan yang sudah kami lakukan (Polres Simalungun). Sedangkan soal tuntutan dicopot dan tidak berdomisili di desa, kita akan lakukan sesuai dengan prosedur yang ada,” terang AKP Masrianto bersama Pangulu Marubun Bayu.

Usai mendengar penjelasan AKP Masrianto warga diminta kembali ke rumah masing-masing dan membubarkan pertemuan di balai desa.

Sementara AM ketika ditemui usai menghadiri pertemuan di balai desa dengan warga Desa Marubun Bayu saat dikonfirmasi wartawan tidak bersedia memberikan penjelasan.

“Nanti aja diklarifikasi, udah nanti aja diklarifikasi, nanti aja, itu udah lain judul, banyak judul, ini sudah judul baru nanti aja,” ucapnya sambil berlalu meninggalkan Balai desa Marubun Bayu, Kecamatan Tanah Jawa, Sabtu (30/1/20/21) siang. (Ray)

Mungkin Anda juga menyukai