Kepala SMKN 1 Gido, Julius Lahagu, hanya bisa pasrah. Dari 22 guru di sekolahnya, hanya satu yang berstatus PNS sisanya masih honorer. “Selama ini kami berada di tempat yang tidak layak,” keluhnya.
Ketika Bobby Nasution pertama kali meninjau SMKN 1 Gido pada Maret 2025, dia tak sekadar melihat dia bertindak.
“Melihat SMK Negeri 1 Gido yang secara antusias muridnya sangat baik dan tiap tahun penambahan siswanya juga sangat luar biasa, namun fasilitasnya masih sangat memprihatinkan,” kata Bobby kala itu.
Alih-alih merenovasi bangunan tua yang sudah tak layak, Bobby memutuskan langkah lebih berani: relokasi total. “Statusnya juga lahan pertanian basah, hujan dikit langsung tergenang dan dekatnya ada muara. Ada laporan pernah lihat buaya, jadi bahaya, sehingga kita pindahkan,” tegasnya.
Yang membuat langkah ini istimewa: pemerintah provinsi tidak mengeluarkan biaya sepeser pun untuk pembebasan lahan. Warga setempat, Faonasekhi Lawolo, dengan tulus menghibahkan tanahnya seluas 2 hektare untuk pembangunan sekolah baru.
“Kami tidak ada pengadaan lahan. Pak Faonasekhi Lawolo menghibahkan tanahnya seluas 2 hektare, kami sangat berterima kasih,” ujar Bobby.






