Di tengah optimisme melihat bakat anak-anak Medan, Rico Waas juga memberikan catatan kritis terkait tantangan pola asuh digital di era modern. Menurutnya, penggunaan gawai (gadget) yang tidak terkontrol dapat mengancam perkembangan fisik dan mental anak.
Uniknya, Rico Waas mengingatkan para orang tua untuk terlebih dahulu menyadari kebiasaan gawai mereka sendiri sebelum membatasi anak-anak.
“Anak-anak itu bagaikan kertas putih, dan orang tua adalah yang melukisnya. Sering kali pagi-pagi yang kita cari pertama kali bukan hal lain, tapi meraba-raba meja mencari HP. Kebiasaan ini dilihat dan dicontoh langsung oleh anak-anak,” jelas Rico Waas.
Rico Waas juga menekankan bahwa kemajuan teknologi memang tidak bisa dibendung dan sudah menjadi bagian dari dunia pendidikan. Namun, peran orang tua dan pendamping sangat krusial dalam menetapkan batas-batas yang sehat agar anak-anak tidak mengalami ketergantungan.
Selanjutnya Rico Waas menambahkan, Peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Kota Medan menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen perlindungan dan pemenuhan hak anak. Menurut Rico Waas, anak-anak adalah calon pemimpin masa depan yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa. Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat memiliki kewajiban bersama untuk memberikan dukungan penuh terhadap tumbuh kembang mereka.
“Anak-anak Indonesia itu cerdas dan berpotensi besar, bahkan banyak yang berprestasi hingga ke tingkat internasional. Tugas kita sebagai orang tua dan pemerintah adalah memberikan dorongan, kesempatan untuk tampil, serta ruang kreativitas dan pendidikan yang inklusif,” ujar Rico Waas.
Acara Festika 2026 ini turut dihadiri oleh Ketua TP PKK Kota Medan Ibu Airin Rico Waas, Ketua DWP Kota Medan Ibu Ismiralda Wiriya Alrahman, Direktur Eksekutif PKPA Kemala Dewi, segenap Pimpinan Perangkat Daerah di lingkungan Pemko Medan, Camat se- Kota Medan serta perwakilan dari Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (POTADS) Sumut dan SLB Pembina. (rel)






