“Melalui kolaborasi ini, para desainer dan pelaku industri kreatif di Medan dapat saling berbagi pengalaman dan memperoleh inspirasi baru. Visi kami dalam lima tahun ke depan adalah membawa ekosistem fashion Kota Medan tidak hanya berkiprah di tingkat nasional, tetapi juga menembus panggung internasional,” tutur Airin.
Menurut Airin, kemajuan industri fashion berbasis budaya tidak hanya ditentukan oleh kreativitas perancang busana, tetapi juga oleh kemampuan menghubungkan seluruh elemen pendukung, mulai dari pengrajin wastra, pembuat aksesori, pelaku UMKM, hingga jaringan pemasaran.
Airin menilai perkembangan industri fashion lokal dapat memberikan dampak berganda (multiplier effect) bagi perekonomian masyarakat. Ketika semakin banyak orang mengenakan wastra Nusantara, peluang pasar bagi pengrajin Ulos, Tenun Melayu, Uis Karo, serta pelaku usaha pendukung seperti pengrajin tas dan aksesori lokal juga berpotensi meningkat.
Karena itu, lanjut Airin, Dekranasda Kota Medan berupaya membuka ruang promosi yang lebih luas bagi pelaku usaha lokal. Salah satunya melalui stan Dekranasda dalam MFCF 2026 yang menampilkan beragam produk, mulai dari busana, tas, aksesori, kerajinan tangan, hingga kuliner. Produk wastra dari Bhayangkari juga turut meramaikan pameran tersebut.
MFCF yang berlangsung sejak 13 – 18Oktober 2026 itu turut menghadirkan parade busana, fashion show, tarian etnik Batak, diskusi mengenai fashion dan wastra, serta penampilan pelajar dan alumni sekolah desain mode. Keterlibatan desainer muda menjadi bagian dari upaya menyiapkan regenerasi sekaligus memberikan kesempatan bagi talenta lokal untuk menunjukkan karya mereka.
Airin menegaskan, peringatan Hari Ulos Nasional menjadi momentum untuk mengingat bahwa Ulos bukan sekadar kain yang memiliki keindahan visual, melainkan warisan budaya yang mengandung nilai kasih sayang, doa, dan filosofi kehidupan yang diwariskan turun-temurun.
Ia berharap inovasi dalam industri fashion tetap berlandaskan penghormatan terhadap makna dan nilai budaya. Dengan demikian, tradisi dapat berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan identitasnya.
Sebagai kota dengan keberagaman etnis, Medan memiliki kekayaan budaya yang dapat menjadi fondasi pengembangan industri kreatif. Selain Ulos, Airin berharap wastra lain, seperti Uis Karo dan Tenun Melayu, juga mendapat ruang untuk diperkenalkan melalui kegiatan serupa.
“Tradisi dan modernitas bisa berjalan bersama. Namun, setiap inovasi harus tetap menghormati makna, filosofi, dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya,” ucap Airin.
Melalui MFCF 2026 bertema Ulos in Innovation, Pemko Medan dan Dekranasda berharap pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi kreatif. Penguatan pembinaan, peningkatan kualitas produk, promosi, serta kolaborasi lintas sektor diharapkan membuka peluang lebih besar bagi pengrajin dan pelaku UMKM untuk meningkatkan kesejahteraan.
Selanjutnya, Rico Waas bersama Airin menyerahkan cenderamata kepada desainer Edward Hutabarat dan Torang Sitorus. Tidak hanya itu, Puncak MFCF 2026 ini diisi dengan Talk show yang menghadirkan narasumber Edward Hutabarat dan Torang Sitorus.(rel)






