Pedagang tampak banyak berjualan di halaman luar Pasar Marelan. (lir)
Loading...

MEDAN (medanbicara.com)-Penertiban pedagang Pasar Marelan, di Jalan Marelan Raya Pasar V Kelurahan Rengas Pulau, Kecamatan Medan Marelan belum maksimal. Pasalnya, bangunan pasar bertingkat dua yang telah diisi dengan meja-meja pedagang tersebut hingga saat ini belum semua dipenuhi oleh para pedagang.

Menurut pantauan di Pasar Marelan Jalan Marelan Raya Pasar V Kelurahan Rengas Pulau Kecamatan Medan Marelan, setiap harinya ramai dikunjungi oleh warga masyarakat yang hendak berbelanja untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Ramainya pengunjung yang berbelanja itu ternyata hanya terlihat di depan Pasar Marelan, bukan di dalam lantai dasar, apalagi di lantai II.

Para warga lebih memilih belanja di halaman depan atau di pinggir Jalan Marelan Raya, karena banyaknya pedagang yang menggelar dagangannya di sana.

Ramainya pengunjung di luar, membuat suasana menjadi semrawut karena para becak bermotor (betor) yang parkir sesuka hatinya sembari menunggu calon penumpang.

Sementara itu, di dalam Pasar Marelan, di lantai dasar masih banyak lapak yang kosong sedangkan di lantai II kosong semua, tak ada satu pedagangpun yang berjualan.

Pasar yang baru selesai dibangun setahun lalu itu tak bisa digunakan secara maksimal sesuai fungsi utamanya. Diduga, selain belum adanya harga lapak yang resmi, soal izin analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal) yang diduga belum dikantongi oleh pihak Pasar Marelan membuat enggannya para pedagang untuk berjualan atau menyewa lapak.

Air limbah dari dalam pasar tidak diketahui kemana buangannya sehingga halaman depan yang digunakan untuk berjualan jadi becek dan menyebarkan aroma tak sedap.

Pantauan wartawan Sabtu (27/7/2019) pagi, meski suasana di lantai dasar terlihat sepi namun pengutipan terhadap para pedagang yang berjualan di pelataran tetap dipungut retribusi sebagai uang kebersihan dan uang jaga malam. Setiap pedagang dikutip Rp2.000 untuk uang jaga malam dan Rp1.600 uang kebersihan setiap harinya.

“Setiap hari ada orang yang datang meminta uang kebersihan dan uang jaga malam kepada setiap pedagang yang berjualan,” ujar seorang pedagang wanita.

Seorang pedagang yang berjualan di lantai dasar mengaku sudah memberi uang panjar Rp3 juta dan membayar Rp200 ribu untuk biaya perpanjangan lapak.

“Meski sudah setahun menyetor uang panjar namun sampai sekarang semua pedagang belum bisa mendapatkan lapak/kios karena hingga kini pihak Pasar Marelan belum memberitahukan berapa harga kios/lapak yang resmi. Jadi, kami hanya hak pakai saja di sini,” sebut pedagang ikan.

Pedagang ikan tersebut menambahkan, sampai sekarang mereka merasa heran, mengapa belum ada harga kios yang ditetapkan oleh pihak Pasar Marelan.

Sementara itu, Kepala Pasar Marelan M Din dikonfirmasi Sabtu (27/7/2019) tidak berada di ruangannya.

Menurut seorang penjual sarapan pagi, M Din baru saja beranjak dari lapaknya dan sedang melihat-lihat lokasi pintu belakang areal pasar yang akan dibuka.

“Barusan aja Pak Din beranjak dari sini dan katanya dia melihat pintu belakang areal pasar yang akan akan dibangun,” ujar ibu penjual sarapan tersebut.

Sayangnya, saat dicari wartawan di lokasi dimaksud ternyata M Din tidak berada di lokasi dimaksud dan diduga sengaja menghilang.(lir)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY