“Cukup dengan peduli, menanam satu pohon, mengurangi satu luka pada alam, kita sudah memberi harapan kecil bagi masa depan,” lanjutnya.
Melalui karya tersebut, Kayla ingin menegaskan bahwa bumi tidak pernah meminta banyak. Alam hanya ingin dirawat, bukan sekadar dimanfaatkan. Pesan ini selaras dengan semangat generasi muda yang kini semakin sadar akan isu perubahan iklim dan kerusakan lingkungan.
Kehadiran puisi “Merawat Bumi, Menjaga Masa Depan” menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak hanya berperan di ruang akademik, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial. Lewat sastra, pesan kepedulian lingkungan dapat disampaikan dengan cara yang menyentuh hati dan membangun kesadaran kolektif.
Karya ini diharapkan mampu menginspirasi masyarakat, khususnya kaum muda, untuk lebih peduli terhadap kelestarian bumi. Sebab menjaga alam hari ini berarti menjaga kehidupan generasi esok.(rel)






