“Ini bukan hanya soal mengirim barang masuk, tapi juga bagaimana komoditas lokal bisa kita distribusikan ke luar. Kalau ini tercapai, pengendalian harga termasuk inflasi tidak akan tergantung sepenuhnya pada pasokan dari luar,” tegas Bobby Nasution dalam peninjauannya.
Apa sih yang membuat proyek ini begitu istimewa? Pelabuhan Roro Gunungsitoli sebenarnya sudah berdiri sejak 2019, dibangun oleh Kementerian Perhubungan.
Baru pada Mei 2026, asetnya diserahkan sepenuhnya kepada Pemerintah Kota Gunungsitoli. Dalam proses pengembangan menjadi pusat logistik, aset ini akan dikelola sementara oleh Pemprov Sumut.
Namun, kondisi pelabuhan saat ini masih jauh dari kata ideal. Kepala Dinas Perhubungan Sumut, Yuda Pratiwi Setiawan, mengungkapkan bahwa dermaga yang ada hanya sepanjang 90 meter dan selama ini hanya mampu menampung kapal penumpang kecil, seperti Kapal Mutiara, dengan jadwal tiga kali seminggu ke Aceh Singkil. Tentu saja, kondisi ini belum memungkinkan untuk bongkar muat logistik dalam skala besar.






