Untuk mencapai puncak bukit yang menyimpan peradaban, Bobby dan Fabien berjalan kaki menempuh medan menanjak sejauh 200 meter. Di sanalah, terhampar ratusan artefak batu berusia sekitar 5.000 tahun.
Bentuknya beragam tugu, meja persegi, hingga meja bundar yang diyakini sebagai jejak peradaban megalitikum Nias.
Keistimewaan Tetegewo terletak pada kemiripan struktur batunya dengan pondasi rumah adat Nias (Omo Sebua) yang masih berdiri kokoh hingga kini. Ini bukan sekadar batu, melainkan bukti sambung-menyambung budaya dari ribuan tahun lalu hingga masa kini.
Perjalanan berlanjut ke Desa Adat Bawomataluo di Kecamatan Fanayama. Berada di ketinggian 324 meter di atas permukaan laut, nama Bawomataluo berarti “Bukit Matahari”.






