“Potensi bisnisnya sangat menjanjikan. Produk turunannya banyak, pasarnya luas, bahkan bisa menembus ekspor. Ini peluang yang harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Nias Utara,” ujarnya.
Viktor juga menilai ketersediaan bahan baku bukan menjadi persoalan karena lahan budidaya rumput laut di wilayah tersebut masih memungkinkan untuk dikembangkan. Selain itu, jumlah petani dan pengepul yang selama ini aktif juga cukup banyak sehingga mampu menopang kebutuhan industri pengolahan.
“Bahan bakunya tersedia dan siklus panennya relatif cepat, sekitar 45 hari. Jika dikelola dengan manajemen yang baik serta didukung permodalan yang memadai, maka permintaan akan meningkat dan otomatis berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan keterlibatan pemerintah dapat dilakukan melalui pola kemitraan yang saling menguntungkan antara BUMD dan kelompok masyarakat. Dengan demikian, masyarakat tetap menjadi pelaku utama dalam budidaya, sementara pemerintah hadir sebagai penggerak industri dan pemasaran.
“Kerja sama dengan masyarakat bisa diatur melalui berbagai skema kemitraan. Yang terpenting masyarakat merasakan kehadiran pemerintah dan memperoleh manfaat ekonomi yang nyata dari potensi yang mereka miliki,” pungkasnya. (rel)






