Tiorita mengatakan, 79 tahun lalu Pangkalan Brandan dihadapkan pada situasi perjuangan yang berat dalam mempertahankan kemerdekaan. Semangat perjuangan tersebut, menurutnya, harus terus dilanjutkan melalui pengabdian sesuai tugas dan tanggung jawab masing-masing.
“Mari kita lanjutkan perjuangan tersebut dengan semangat yang sama sesuai tugas kita masing-masing,” ajaknya.
Tiorita juga mengingatkan bahwa Pangkalan Brandan memiliki kontribusi besar dalam perjalanan sejarah bangsa. Karena itu, semangat perjuangan yang diwariskan para pendahulu harus menjadi kekuatan untuk mempererat persatuan dan mendorong kemajuan daerah.
“Mari bersama menguatkan persatuan, kesetiaan, melanjutkan semangat pengabdian untuk memajukan Kabupaten Langkat maupun Sumatera Utara,” tegasnya.
Semangat Perjuangan untuk Masa Kini
Sementara itu, mewakili Gubernur Sumatera Utara, Asisten Pemerintahan Sekretariat Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Drs. Basarin Yunus Tanjung, mengatakan bahwa di balik kobaran api Peristiwa Berandan Bumi Hangus terdapat keberanian dan semangat perjuangan masyarakat Pangkalan Brandan.
Menurutnya, nilai-nilai perjuangan tersebut harus terus diterapkan dalam kehidupan masa kini melalui berbagai bidang pembangunan.
“Nilai semangat perjuangan ini harus diterapkan ke zaman sekarang dengan meningkatkan semangat dalam pendidikan, pembangunan, pelayanan kepada masyarakat serta meningkatkan perekonomian,” katanya.
Puncak kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penampilan drama kolosal Kilas Balik Peristiwa Berandan Bumi Hangus yang diperankan oleh ratusan anak sekolah bersama prajurit Marinir Yonif 8 Harimau Putih.
Drama tersebut menggambarkan kembali perjuangan masyarakat dan para pejuang dalam mempertahankan Pangkalan Brandan dari upaya penguasaan Belanda.
Peringatan ke-79 Berandan Bumi Hangus menjadi momentum bagi Pemerintah Kabupaten Langkat dan masyarakat untuk mengenang jasa para pejuang sekaligus meneguhkan kembali semangat persatuan, patriotisme dan pengabdian dalam membangun Kabupaten Langkat dan Indonesia.(rel)






