Beting Semelur Bakal Disulap Jadi Kampung Warna-Warni, Wali Kota Tanjungbalai Siapkan Tiga Opsi Pendanaan

oleh

“Sesuai harapan saya, ini dapat menjadi Kampung Warna-Warni. Nantinya tidak lagi seperti yang kita lihat sekarang. Kita akan menentukan warna yang cocok, tentunya disesuaikan dengan nuansa Kota Tanjungbalai karena daerah kita memiliki ciri khas Melayu,” ungkapnya.

Selain mempercantik kawasan, Mahyaruddin juga ingin menjadikan Beting Semelur sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat.

Ia menjelaskan, salah satu tujuan penyerahan aset melalui program KOTAKU adalah agar pemerintah daerah dapat mengelola kawasan tersebut sehingga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Salah satunya dengan memanfaatkan lahan kosong untuk pembangunan kios atau gerai UMKM yang nantinya dapat dikelola masyarakat setempat.

“Dari program UMKM itu nantinya ada aktivitas ekonomi masyarakat dan PAD yang bisa masuk. Di samping itu, kawasan ini juga dapat kita jadikan tempat berbagai kegiatan pariwisata dan olahraga,” katanya.

Sejumlah kegiatan yang berpotensi digelar di kawasan tersebut antara lain lomba perahu naga, pertunjukan tarian tradisional, serta berbagai kegiatan yang menampilkan kearifan lokal Kota Tanjungbalai.

Pelaksanaannya akan dikoordinasikan melalui Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar), sekaligus mendorong kreativitas generasi muda.

Di sisi lain, Mahyaruddin meminta seluruh pihak ikut menjaga kawasan Beting Semelur agar tidak kembali kumuh. Ia secara khusus meminta camat dan lurah melakukan pengawasan serta menggerakkan kegiatan gotong royong secara rutin.

“Saya berharap secepatnya BPKPD menyerahkan asetnya ke Dinas Perkim. Tentunya kami juga berharap dukungan semua pihak, termasuk camat agar menertibkan kawasan ini sehingga tidak ada lagi bangunan yang dibangun sembarangan,” tegasnya.

Ia juga meminta Camat Datuk Bandar lebih sering turun ke lokasi bersama pihak kelurahan dan kepala lingkungan untuk menggalakkan gotong royong serta menjaga kebersihan kawasan.

Mahyaruddin mengakui, keterbatasan Pendapatan Asli Daerah (PAD), kemampuan fiskal dan APBD menjadi tantangan dalam merealisasikan seluruh rencana pembangunan.

Namun, kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berupaya membenahi kawasan dan meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Harapan demi harapan tetap terpatri dalam diri kami sebagai kepala daerah. Persoalan aset, lingkungan, perkembangan dan pertumbuhan ekonomi serta UMKM harus bisa terwujud. Walaupun kami menyadari saat ini dengan keterbatasan PAD, fiskal dan APBD sedikit agak sulit, tetapi ini tidak membuat kita putus asa. Tetap semangat dan yakin,” pungkas Mahyaruddin. (vin)