Ia mengaku, musibah itu bermula sekitar enam tahun lalu ketika bekerja sebagai nelayan pencari kerang di sebuah kapal. Saat itu, dirinya terjatuh dari kapal dan mengalami benturan keras di bagian pinggang.
“Awalnya karena jatuh dari kapal. Waktu itu saya bekerja sebagai nelayan kerang. Saya terjatuh dari kapal dan kena di pinggang. Sempat terdengar seperti ada suara patah, tapi saat itu saya masih bisa bekerja,” kenangnya.
Sejak kejadian tersebut, Khairil kerap merasakan sakit pinggang dan mati rasa pada bagian kaki. Kondisinya semakin memburuk hingga kedua kakinya mengecil dan kini tidak lagi mampu berjalan.
Untuk mengurangi rasa sakit, ia hanya mengandalkan obat-obatan yang dibeli di warung maupun pemberian dari puskesmas.
“Kaki saya sudah mati rasa. Hanya denyut dan kebas yang saya rasakan. Kalau ditusuk pun saya sudah tidak merasakan apa-apa. Tapi kalau denyutnya sampai ke otak, sakit sekali,” tuturnya.
Khairil mengaku tidak memiliki KTP karena identitasnya hilang saat bekerja di kapal. Padahal, ia membutuhkan dokumen tersebut untuk mengurus jaminan kesehatan dan mendapatkan pengobatan.
Kini, kehidupan mereka jauh dari kata layak. Suriatun yang dahulu tidak bekerja karena Khairil menjadi pencari nafkah utama, kini harus berjuang seorang diri.
“Beginilah kehidupan kami sekarang. Dahulu saat saya masih sehat, istri saya tidak bekerja. Saya yang mencari uang. Alhamdulillah, istri saya tetap setia menemani, baik dalam kondisi sehat maupun sakit,” ungkapnya.
Suriatun saat ini mengumpulkan barang bekas dan bekerja sebagai asisten rumah tangga. Penghasilannya pun tidak menentu.”Kadang sehari dapat Rp15 ribu, Rp20 ribu. Paling besar sekitar Rp40 ribu,” katanya.
Keterbatasan ekonomi membuat mereka harus tinggal di sebuah bangunan kecil berukuran 3 x 2 meter dengan biaya sewa Rp150 ribu per bulan. Untuk membayar listrik, Suriatun menggantinya dengan tenaga, seperti mencuci dan membersihkan rumah pemilik bangunan.
Di tengah kondisi sulit itu, Khairil mengaku masih memiliki keinginan kuat untuk kembali produktif. Bahkan, sebelum kondisinya semakin parah, ia sempat bekerja mengupas kulit kerang sambil duduk untuk membantu meringankan beban istrinya.
Namun, ia mengaku semakin terpukul ketika sang istri pernah dituduh mencuri uang Rp5 juta di tempatnya bekerja. Khairil membantah tuduhan tersebut dan mengaku keluarganya merasa tertekan karena diminta mengakui perbuatan yang tidak mereka lakukan.
“Kami bingung, karena tidak berbuat tetapi disuruh mengakui sesuatu yang bukan kami lakukan. Makanya saya ingin sembuh agar istri saya tidak disepelekan orang,” ujarnya.
Dengan mata penuh harap, Khairil meminta bantuan kursi roda dan modal usaha agar dirinya bisa kembali mencari nafkah, meski harus bekerja dari kursi roda.
“Saya ingin jualan. Saya juga ingin punya kursi roda agar bisa berusaha mencari uang. Setidaknya saya bisa pergi ke masjid untuk beribadah,” harapnya.
Bagi Khairil, kursi roda bukan sekadar alat bantu berjalan, melainkan harapan untuk kembali berdaya dan meringankan beban sang istri yang selama enam tahun terakhir berjuang menghidupi keluarga mereka.(vin)






