Menurutnya, tantangan dunia pendidikan saat ini semakin berat dan membutuhkan tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah dan sekolah, tetapi juga keluarga serta masyarakat.
“Tantangan yang semakin berat terhadap pendidikan menjadi tanggung jawab bersama. Apalagi baru-baru ini ada dua kasus serius yang melibatkan anak sebagai korban pelecehan seksual. Anak-anak di bawah umur berada di tempat kos-kosan, maraknya anak sekolah yang bergaya boti, menggunakan vape, ekstasi dan ganja,” tegas Mahyaruddin.
Karena itu, ia meminta Dewan Pendidikan lebih agresif menyusun program kerja yang menyentuh langsung persoalan generasi muda.
Salah satu langkah yang didorong adalah mengajak sekolah-sekolah memperkuat pembinaan mental dan karakter peserta didik serta menggalakkan kegiatan ekstrakurikuler.
Dengan demikian, waktu luang para pelajar dapat diarahkan pada kegiatan positif yang mampu membangun kreativitas, kedisiplinan, dan menjauhkan mereka dari pengaruh pergaulan negatif.
Mahyaruddin berharap Dewan Pendidikan periode 2026-2031 tidak sekadar menjadi mitra pemerintah secara administratif, tetapi mampu memberikan gagasan, kritik, dan solusi konkret demi kemajuan pendidikan di Kota Tanjungbalai.
“Peran Dewan Pendidikan harus lebih agresif dalam menyusun program kerja, mengajak sekolah-sekolah melakukan pembinaan mental dan menggalakkan ekstrakurikuler agar waktu anak-anak terpakai untuk hal-hal positif,” pungkasnya.(vin)






