Wali Kota Tanjungbalai Turun Langsung Bantu Pasutri Miskin, Suami Lumpuh Enam Tahun Butuh Kursi Roda

oleh

TANJUNGBALAI (medanbicara.com) – Kepedulian terhadap warga kurang mampu ditunjukkan Wali Kota Tanjungbalai, Mahyaruddin Salim. Begitu menerima informasi adanya pasangan suami istri yang hidup dalam kondisi memprihatinkan, Mahyaruddin langsung mendatangi kediaman mereka di Jalan Sei Citarum, Kelurahan Sumber Sari, Kecamatan Sei Tualang Raso, Rabu (4/11/2026).

Kunjungan tersebut dilakukan bersama sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) untuk melihat langsung kondisi sekaligus mendengar keluhan pasangan Suriatun (40) dan Khairil (53).

Kisah pasangan ini cukup memilukan. Selama enam tahun terakhir, Khairil hanya bisa terbaring dan duduk akibat penyakit yang dideritanya. Kondisi tersebut membuat sang istri, Suriatun, harus menjadi tulang punggung keluarga.

Demi menyambung hidup, Suriatun rela bekerja serabutan. Mulai dari mengumpulkan barang bekas, menjadi asisten rumah tangga, hingga mencuci dan menyetrika pakaian milik warga sekitar.

Saat berdialog dengan pasangan tersebut, Mahyaruddin mengaku prihatin melihat kondisi kehidupan mereka. Ia pun langsung menginstruksikan OPD terkait agar memberikan perhatian dan bantuan.

Menurut Mahyaruddin, Khairil berasal dari Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Sebelumnya, Khairil sempat merantau ke Malaysia, kemudian dideportasi dan akhirnya menetap di Tanjungbalai setelah diangkat sebagai anak oleh orang tua angkatnya.

“Setelah merantau, bapak ini dipulangkan dan memilih menetap di Kota Tanjungbalai. Diangkat sama orang tua angkatnya dan menikah di sini,” ujar Mahyaruddin.

Dari hasil penelusuran awal, Khairil diketahui memiliki riwayat darah tinggi, asam urat, sesak napas, serta kondisi kedua kaki yang semakin mengecil.

Wali Kota menyebutkan, Khairil sebelumnya bekerja sebagai nelayan. Namun, setelah mengalami kecelakaan saat bekerja di laut, kondisi kesehatannya terus memburuk.

Mahyaruddin mengatakan, pemerintah akan membantu mulai dari pendataan administrasi kependudukan hingga jaminan kesehatan agar Khairil bisa mendapatkan penanganan medis yang layak.

“Di sini ada OPD terkait. Tadi kami sudah merekam datanya untuk dibuatkan identitas. Walaupun punya istri, status mereka menikah siri. Nanti akan kita bantu proses administrasinya agar status pernikahannya bisa tercatat,” jelasnya.

Akibat tidak memiliki KTP, Khairil selama ini belum bisa mengakses BPJS Kesehatan. Meski demikian, pihak Puskesmas Sei Tualang Raso tetap memberikan pelayanan dan obat-obatan.

Selain penanganan kesehatan, Khairil juga membutuhkan kursi roda agar bisa beraktivitas dan menjalankan keinginannya untuk kembali mencari nafkah.

“Saat ini bapak ini meminta kursi roda agar bisa keluar rumah dan pergi ke masjid. Dia juga masih ingin berusaha. Saya minta Dinas Sosial memperhatikan ini. Kalau sudah ada, Pak Lurah bisa membawa beliau ke rumah sakit untuk ditindaklanjuti,” tegas Mahyaruddin.

Mahyaruddin juga mengungkapkan, pasangan tersebut tinggal di rumah kontrakan berukuran sekitar 3 x 2 meter dengan biaya sewa Rp150 ribu per bulan. Sementara untuk membayar listrik, Suriatun membantu pemilik rumah melakukan pekerjaan rumah tangga.

Ia turut menjelaskan bahwa Pemko Tanjungbalai memiliki program pengumpulan zakat dari pemotongan 2,5 persen gaji ASN setiap bulan. Dana tersebut nantinya dihimpun dan disalurkan melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) kepada masyarakat yang membutuhkan.

Di balik kunjungan tersebut, Khairil menceritakan awal mula dirinya mengalami kondisi yang membuatnya kehilangan kemampuan berjalan.