Bagi sebagian orang, nilai itu mungkin tidak seberapa. Namun bagi Ruwaida, perhatian yang tulus dari seseorang yang sebelumnya tidak dikenalnya menjadi sesuatu yang jauh lebih berharga.
Dengan penuh hormat, Ruwaida Sinaga mengucapkan terima kasih Ibu.
Namun jawaban yang diterimanya justru membuat suasana menjadi semakin haru.
”Jangan panggil ibu, panggil saja Bou,” kata perempuan tersebut.
Dalam tradisi Batak, “Bou” bukan sekadar sapaan. Kata itu mengandung makna kekeluargaan, kasih sayang, perlindungan, dan penghormatan kepada sosok perempuan yang dianggap bagian dari keluarga besar.
Tak berhenti sampai di situ, perempuan tersebut kembali berpesan kepada Ruwaida.
”Jangan lupa datang ke rumah Bou. Pintu rumah Bou selalu terbuka untuk Ruwaida.”
Kalimat sederhana itu seolah menghapus jarak antara kampung halaman dan tanah perantauan. Di tengah tugas KKN yang dijalani jauh dari keluarga, Ruwaida menemukan kehangatan yang mengingatkannya pada rumah.
Kisah ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai budaya dan persaudaraan masih hidup di tengah masyarakat. Di mana pun orang Batak berada, ikatan marga sering kali menjadi jembatan yang mempertemukan hati dan mempererat hubungan antarsesama.
Lebih dari itu, peristiwa tersebut juga menunjukkan bahwa peringatan kemerdekaan bukan hanya tentang mengibarkan bendera atau mengenang perjuangan para pahlawan. Kemerdekaan juga dirayakan melalui tumbuhnya rasa persatuan, kepedulian, dan solidaritas antarsesama anak bangsa.
Bagi Ruwaida Sinaga, tugas sebagai pengibar bendera pada HUT ke-81 Republik Indonesia akan menjadi kenangan yang sulit dilupakan.
Bukan semata karena kehormatan membawa Sang Saka Merah Putih, melainkan karena pada hari itu ia merasakan bahwa di tanah rantau sekalipun, persaudaraan tetap menemukan jalannya.
Di bawah kibaran Merah Putih yang gagah, sebuah pelajaran berharga kembali ditegaskan: bahwa Indonesia dibangun bukan hanya oleh kesamaan wilayah, tetapi juga oleh nilai-nilai kekeluargaan yang hidup dalam keberagaman budaya.
Dan pada pagi kemerdekaan itu, di sebuah desa kecil bernama Rambah Jaya, persaudaraan menemukan maknanya yang paling sederhana sekaligus paling indah. (Rel)






