Loading...

MEDAN (medanbicara.com)-Kasus HIV-AIDS di Sumatera Utara sampai dengan Juni 2017 memcapai 8.399 kasus, dengan perincian HIV sebanyak 3478 kasus dan AIDS sebanyak 4921 kasus. Ironisnya, kasus HIV Aids di Sumut berada pada ranking ke-7 dari 33 Provinsi di Indonesia menurut data Kemenkes tahun 2017.

Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris I Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Sumatera Utara, Rachmatsyah di kantor KPA Sumut, jalan Veteran Medan, Kamis (30/11).

Dia menyebutkan, angka prevalensi HIV-AIDS di Sumut adalah 28,97 per 100.000 penduduk, artinya adalah setiap 100.000 penduduk di Sumatera Utara terdapat 29 orang yang menderita HIV-AIDS.

“Berdasarkan teori fenomena “gunung es” dikatakan bahwa setiap 1 kasus yang muncul dipermukaan artinya ada 100 kasus yang belum kelihatan,”sebutnya.

Jika menerapkan teori gunung es tersebut terhadap jumlah kasus HIV-AIDS di Sumut katanya, hal itu berarti masih ada 800.000 kasus HIV-AIDS yang belum ditemukan. Menurutnya, ini merupakan hal yang sangat memprihatinkan, karena dikhawatirkan orang dengan HIV-AIDS yang belum ditemukan tersebut akan terus menularkan HIV kepada orang lain.

“Data kasus HIV-AIDS di Sumatera Utara berasal dari seluruh (33) kabupaten kota. Hampir semua kabupaten kota sudah terbentuk KPA, namun ada yang aktif dan ada yang tidak aktif. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana penanggulangan HIV-AIDS di labupaten lota yang KPA nya tidak aktif atau tidak ada sama sekali,”tuturnya.

Jika melihat sebaran perilaku masyarakat yang berisiko tertular HIVAIDS bebernya, tentu semua kabupaten kota di Sumatera Utara berpotensi menjadi wilayah yang masyarakatnya rentan tertular HIV-AIDS, karena masih banyak ditemukan tempat-tempat prostitusi, perilaku seks di luar nikah, pengguna narkoba suntik, dan seks sesamajenis (homosexual).

Kepala Sekretariatan KPA Sumut, Acmad Ramadhan MA, mengatakan,  penyebab masih tingginya kasus HIV-AIDS adalah karena masih banyaknya ditemukan Stigma dan Diskriminasi kepada Orang dengan HIV-AIDS (ODHA) oleh masyarakat umum. Hal itu, karena menganggap HIV-AIDS adalah penyakit Kutukan yang menular melalui berdekatan dengan penderita, berjabat tangan, dan aktivitas masyarakat yang lain, sehingga harus dijauhi dan dikucilkan.

“Dalam pelaksanaan program penanggulangan HIV AIDS di KPA Provinsi Sumatera Utara selama ini didanai oleh APBD Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan dukungan dana dana Iuar negeri. Program-program yang dilaksanakan lebih di fokuskan pada kegiatan seperti Asistensi dan Penguatan ke Kabupaten/Kota di Sumatera Utara terkait Upaya Penanggulangan HIV-A Inc Koordinasi dengan Stakeholder di Provinsi Sumatera Utara,” ujarnya.

Penjangkauan pada kelompok berisiko tinggi seperti Wanita Pekerja Seks (WPS), Lelaki Pekerja Pelabuhan, Pengguna Narkoba Suntik, Waria dan Lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki.

“Dalam momentum memperingati Hari AIDS Sedunia (HAS) 1 Desember 2017 ini dengan tema nasional “Saya Berani, Saya Sehat!”, KPA Provinsi Sumatera Utara mengajak semua kalangan di Sumatera Utara untuk peduli dengan permasalahan HIV-AIDS di Sumatera Utara dengan cara melakukan tes HIV dan melanjutkan dengan pengobatan ARV jika terdiagnosa HIV sedini mungkin,”pungkasnya. (fatimah)

 

 

TIDAK ADA KOMENTAR