Sementara itu, warga Jalan Kawat VII, Azman, mengungkapkan keresahannya terhadap maraknya aksi begal dan tawuran yang dinilai semakin meresahkan masyarakat.
“Kami berharap pemerintah bersama aparat keamanan dapat mengambil langkah yang lebih tegas karena aksi begal dan tawuran sudah membuat masyarakat merasa tidak aman,” katanya.
Sementara itu, Siti Hafizah, warga lainnya, mempertanyakan mekanisme penentuan kategori desil yang menjadi dasar penyaluran berbagai program bantuan sosial. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang belum memahami indikator penilaian tersebut.
Di kesempatan yang sama, Ari Nasution meminta kejelasan terkait pembangunan jembatan Kota Bangun serta proses pembebasan lahan yang dinilai perlu segera direalisasikan demi kelancaran akses transportasi masyarakat.
Menanggapi persoalan keamanan, Lurah Tanjung Mulia Hilir, Dedi Anggara, mengimbau para orang tua agar lebih aktif mengawasi aktivitas anak-anak, khususnya remaja.
“Kami mengajak seluruh keluarga untuk memastikan anak-anak remaja sudah berada di rumah apabila sudah malam. Pengawasan dari orang tua sangat penting untuk mencegah mereka terlibat dalam aksi tawuran maupun tindak kriminal lainnya,” ujarnya.
Menutup kegiatan reses, Datuk Iskandar Muda menegaskan seluruh aspirasi masyarakat akan menjadi bahan perjuangan di DPRD Medan. Ia berkomitmen mengawal setiap usulan melalui koordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait agar dapat direalisasikan sesuai kebutuhan masyarakat.
“Reses merupakan momentum bagi kami untuk mendengar langsung persoalan yang dihadapi warga. Seluruh aspirasi yang disampaikan hari ini akan kami perjuangkan agar dapat ditindaklanjuti melalui program pembangunan dan kebijakan pemerintah, sehingga manfaat anggaran benar-benar dirasakan masyarakat,” pungkasnya.(rel)






